Senin, 29 Desember 2025

CERITA TERAKHIR: Ketika Kebohongan Tak Lagi Dibutuhkan


 






Mereka selalu mengira orang seperti aku akan gelisah.

Entah kenapa, setiap kali seseorang duduk di hadapanku dengan map cokelat dan pena hitam, mereka berharap aku berkeringat, menghindari tatapan, atau setidaknya menunjukkan tanda-tanda ingin segera pulang. Padahal, kalau mereka mau jujur pada diri sendiri, aku justru yang paling tenang di ruangan itu.

Aku tidak keberatan menunggu.
Aku tidak keberatan ditanya.

Aku bahkan tidak keberatan mengulang cerita yang sama.

Karena cerita yang benar tidak berubah.

Aku ingat pertama kali mereka menghubungiku. Seorang pria dari kepolisian—suaranya datar, terlalu sopan untuk sebuah kabar buruk. Ia mengatakan namaku muncul dalam beberapa keterangan saksi. Tidak sebagai tersangka, katanya cepat, seolah takut aku tersinggung. Hanya sebagai orang yang “mungkin tahu sesuatu”.

Aku langsung setuju datang.

Bukan karena rasa takut. Lebih karena rasa tanggung jawab. Jika ada orang yang bisa membantu mereka memahami apa yang terjadi, itu aku. Aku selalu punya kebiasaan memperhatikan hal-hal kecil—pola, kebiasaan, detail yang orang lain anggap remeh. Dunia ini bergerak dengan aturan yang cukup jelas, hanya saja kebanyakan orang terlalu sibuk dengan perasaan mereka sendiri untuk melihatnya.

Ruang pemeriksaan itu sederhana. Dinding abu-abu pucat, satu meja logam, dua kursi saling berhadapan. Tidak ada jam di dinding. Aku sempat tersenyum kecil melihat itu—mereka tidak ingin orang menghitung waktu di sini. Sebuah keputusan yang masuk akal.

Aku duduk dengan punggung tegak. Tanganku di atas meja, tidak saling menggenggam. Orang yang gugup biasanya melakukan itu.

Mereka mulai dengan pertanyaan dasar. Nama lengkap. Alamat. Pekerjaan. Aku menjawab semuanya tanpa ragu. Bahkan ketika mereka mengulang satu pertanyaan dengan susunan kalimat berbeda, aku tidak keberatan. Konsistensi itu penting dalam penyelidikan, bukan?

Kasusnya sendiri sudah ramai dibicarakan orang, meski mereka berusaha menahannya dari media. Tiga orang ditemukan meninggal dalam kurun waktu yang tidak terlalu jauh. Lokasi berbeda, latar belakang berbeda, nyaris tidak ada benang merah yang jelas bagi orang awam.

Itu yang membuat mereka bingung.

Aku tidak menyebutkan detail itu lebih dulu. Aku tahu mana yang boleh dan tidak boleh aku ucapkan. Tapi ketika salah satu dari mereka—yang duduk di sebelah kanan, yang selalu memegang pena lebih erat dari rekannya—menyebut kata pola, aku tahu mereka sudah mulai kelelahan.

“Apa menurut Anda ada kesamaan di antara para korban?” tanyanya.

Aku berpikir sejenak. Bukan karena tidak tahu jawabannya, tapi karena jawaban yang terlalu cepat sering disalahartikan sebagai sesuatu yang mencurigakan.

“Ada,” kataku akhirnya. “Tapi bukan yang terlihat di permukaan.”

Mereka saling pandang. Itu momen kecil, hampir tidak berarti, tapi aku menangkapnya. Mereka ingin aku melanjutkan.

Aku bicara tentang kebiasaan. Tentang rutinitas manusia yang jarang berubah. Tentang bagaimana orang merasa aman justru saat mereka paling bisa diprediksi. Aku tidak menyebutkan nama korban. Aku hanya menyebut tipe. Cara berjalan, jam pulang, pilihan tempat singgah. Hal-hal yang menurutku wajar untuk diketahui oleh siapa pun yang cukup memperhatikan.

Yang aneh, mereka mencatat semuanya.

Padahal sebagian besar informasi itu belum pernah muncul di berita.

Aku baru sadar kejanggalan itu ketika pria di sebelah kiri bertanya, dengan nada terlalu santai, “Informasi itu Anda dapat dari mana?”

Aku menatapnya, sedikit heran. “Bukankah itu bagian dari laporan awal?” jawabku. “Saya kira sudah dibagikan ke internal.”

Ia mengangguk, tapi tidak segera menulis. Aku bisa merasakan perubahan kecil di udara ruangan itu. Bukan ketegangan—lebih seperti kewaspadaan yang terlambat datang.

Aku tidak tersinggung. Kalau aku di posisi mereka, aku juga akan berhati-hati. Kasus seperti ini menuntut kecurigaan pada semua orang. Bahkan pada orang yang datang sendiri tanpa dipanggil dua kali.

Aku ceritakan bagaimana aku mengenal salah satu korban. Tidak dekat. Hanya sebatas sering bertemu. Dunia ini kecil, apalagi jika rutinitasmu tidak banyak berubah. Aku menyebutkan satu kebiasaan kecilnya—cara ia selalu berhenti sejenak sebelum menyeberang jalan, meski lampu hijau sudah menyala.

“Detail seperti itu penting,” kataku. “Orang tidak mati begitu saja. Mereka selalu berada di satu titik tertentu sebelum itu.”

Kalimat itu membuat mereka berhenti menulis.

Aku baru sadar setelahnya bahwa mungkin pilihan kataku kurang tepat. Tapi aku tidak menariknya kembali. Kata-kata yang jujur tidak perlu diperbaiki.

Wawancara berlangsung lama. Lebih lama dari yang mereka rencanakan, kurasa. Tidak ada teriakan. Tidak ada tuduhan. Hanya pertanyaan yang berputar-putar, mencoba mencari celah dalam ceritaku.

Aku tidak memberi mereka celah.

Ketika akhirnya aku diizinkan pulang, hari sudah mulai gelap. Salah satu dari mereka mengantarku sampai pintu. Ia berkata terima kasih, dengan nada yang terdengar tulus tapi juga lelah.

Aku membalasnya. Aku memang berniat membantu.

Di luar gedung, udara malam terasa lebih jujur. Tidak ada dinding, tidak ada lampu neon. Hanya suara kendaraan dan langkah orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang apa yang sedang dicari polisi.

Aku berdiri sejenak, memikirkan wajah-wajah di dalam ruangan tadi. Mereka bukan orang jahat. Mereka hanya terbiasa melihat kejahatan dari sudut yang salah. Mereka mencari amarah, dendam, luka lama.

Padahal, sering kali jawabannya jauh lebih sederhana.

Aku menatap jalanan di depan gedung itu. Lampu lalu lintas berganti warna dengan teratur. Merah. Kuning. Hijau.

Pola selalu ada, jika kita mau melihatnya.

Dan aku yakin, cepat atau lambat, mereka akan membutuhkanku lagi.

Aku selalu percaya, kebingungan bukan berasal dari kurangnya informasi, tapi dari terlalu banyak asumsi.

Itu yang kulihat di wajah mereka setiap kali aku kembali ke gedung itu. Mereka mulai mengenaliku—bukan sebagai teman, tentu saja, tapi juga belum sebagai ancaman. Posisi yang nyaman. Orang di posisi seperti itu biasanya diberi ruang untuk bicara lebih banyak dari seharusnya.

Aku duduk di kursi yang sama. Meja yang sama. Bahkan noda kecil di sudut meja itu masih ada. Bentuknya seperti garis tipis yang tidak bisa dibersihkan, bekas sesuatu yang pernah ditekan terlalu keras. Aku memperhatikannya lebih lama kali ini. Bukan karena penting, tapi karena kebiasaan.

Mereka membuka pembicaraan dengan pembaruan. Satu korban lagi ditemukan.

Nada suara mereka berusaha datar, tapi aku bisa mendengar perubahan kecil di sana. Kelelahan. Tekanan dari atasan. Media yang mulai mencium bau cerita besar. Kasus seperti ini selalu tumbuh lebih cepat dari kemampuan manusia untuk memahaminya.

“Apa pendapat Anda?” tanya salah satu dari mereka.

Pertanyaan itu menarik. Mereka tidak bertanya apa yang saya tahu, tapi apa pendapat saya. Artinya, mereka sudah mulai menganggap analisaku relevan. Aku menunduk sejenak, seperti sedang menyusun pikiran, padahal sebenarnya aku hanya menimbang seberapa jauh aku perlu melangkah.

“Menurut saya,” kataku pelan, “Anda terlalu fokus pada perbedaan.”

Mereka mengangkat kepala hampir bersamaan.

Aku menjelaskan bahwa setiap orang memang berbeda—latar belakang, pekerjaan, kebiasaan. Tapi perbedaan itu sering menutupi kesamaan yang lebih mendasar. Manusia, bagaimanapun juga, bergerak dalam pola. Bangun di jam yang sama. Pulang lewat jalan yang sama. Duduk di tempat yang sama di angkutan umum, seolah kursi itu memang miliknya.

Aku tidak sedang memberi kuliah. Aku hanya menyebutkan hal-hal yang mereka lihat setiap hari, tapi jarang mereka sadari.

Salah satu dari mereka menyela, bertanya apakah aku sedang mengarah pada teori pelaku yang mengenal semua korban.

Aku menggeleng. “Tidak harus mengenal,” jawabku. “Cukup mengamati.”

Kalimat itu membuat ruangan menjadi sedikit lebih sunyi. Aku tidak bermaksud begitu, tapi keheningan sering muncul di tempat yang tepat, tanpa diminta.

Mereka menunjukkan beberapa foto lokasi kejadian. Tidak semua, tentu saja. Hanya sudut-sudut yang dianggap aman untuk dilihat orang luar. Aku memperhatikannya satu per satu. Cara pita polisi dipasang. Jarak antara tubuh dan jalan. Posisi benda-benda kecil yang nyaris tidak berarti.

Aku menunjuk satu foto dan berkata, “Di sini terlalu rapi.”

Mereka bertanya maksudku.

“Bukan rapi karena dibersihkan,” jelasku. “Rapi karena tidak ada perlawanan.”

Salah satu dari mereka menyela, bertanya apakah aku sedang mengarah pada teori pelaku yang mengenal semua korban.

Aku menggeleng. “Tidak harus mengenal,” jawabku. “Cukup mengamati.”

Kalimat itu membuat ruangan menjadi sedikit lebih sunyi. Aku tidak bermaksud begitu, tapi keheningan sering muncul di tempat yang tepat, tanpa diminta.

Mereka menunjukkan beberapa foto lokasi kejadian. Tidak semua, tentu saja. Hanya sudut-sudut yang dianggap aman untuk dilihat orang luar. Aku memperhatikannya satu per satu. Cara pita polisi dipasang. Jarak antara tubuh dan jalan. Posisi benda-benda kecil yang nyaris tidak berarti.

Aku menunjuk satu foto dan berkata, “Di sini terlalu rapi.”

Mereka bertanya maksudku.

“Bukan rapi karena dibersihkan,” jelasku. “Rapi karena tidak ada perlawanan.”

Aku bisa melihat mereka mencatat itu. Kata-kataku masuk ke dalam laporan, entah sebagai bahan pertimbangan atau sekadar catatan pinggir. Aku tidak peduli. Yang penting, aku sudah menanamkan satu ide: bahwa apa yang mereka cari bukan ledakan emosi, melainkan keputusan yang tenang.

Aku lalu berbicara tentang kemungkinan pelaku yang tidak tergesa-gesa. Seseorang yang tidak panik. Tidak meninggalkan jejak berantakan. Seseorang yang tahu kapan harus datang dan kapan harus pergi.

Tanpa kusadari—atau mungkin kusadari sepenuhnya—aku mulai menggambarkan sosok itu dengan terlalu jelas.

“Pelaku seperti ini,” kataku, “tidak menikmati kekacauan. Ia menikmati ketepatan.”

Aku berhenti sejenak setelah itu. Bukan untuk efek dramatis, tapi karena aku merasa sudah bicara cukup banyak. Namun mereka tidak menghentikanku.

Sebaliknya, mereka bertanya lagi. Tentang kemungkinan latar belakang. Tentang usia. Tentang pekerjaan.

Aku menjawab sebisanya, selalu dengan jarak aman. Setiap jawabanku terdengar seperti spekulasi, tapi terlalu terstruktur untuk sekadar dugaan. Aku menyebutkan bahwa pelaku mungkin seseorang yang terbiasa dinilai dari hasil, bukan perasaan. Seseorang yang hidupnya rapi, bahkan ketika pikirannya tidak.

Aku bisa merasakan arah pembicaraan mulai bergeser. Mereka tidak lagi hanya mencatat. Mereka mulai membandingkan.

Salah satu dari mereka bertanya, hampir sambil lalu, apakah aku pernah bertemu korban terakhir.

Aku tersenyum kecil. “Tidak secara langsung,” kataku. “Tapi saya tahu rutinitasnya.”

Itu mungkin kesalahan kecil. Atau mungkin hanya terdengar seperti itu bagi orang yang mulai curiga.

“Dari mana?” tanyanya cepat.

Aku mengangkat bahu. “Dari cerita orang. Dari kebiasaan yang mudah ditebak. Dari hal-hal yang orang tidak jaga karena merasa aman.”

Jawaban itu tidak sepenuhnya memuaskan mereka. Aku bisa melihatnya dari cara pena berhenti bergerak. Tapi mereka tidak menekanku lebih jauh. Belum.

Ketika sesi itu berakhir, aku berjalan keluar dengan perasaan yang aneh—bukan lega, bukan cemas. Lebih seperti kepuasan kecil karena sesuatu mulai bergerak ke arah yang benar. Mereka mulai melihat pola. Hanya saja, mereka masih melihatnya dari kejauhan.

Di luar, aku berhenti sejenak di tangga. Aku membayangkan papan besar di ruang kerja mereka, penuh foto dan garis penghubung yang kusut. Aku bisa membayangkan bagaimana mereka akan menyusun ulang semuanya malam ini, mencoba memasukkan analisaku ke dalam kerangka yang sudah retak.

Aku tidak iri pada mereka.

Mencari kebenaran itu melelahkan, apalagi jika kebenaran itu duduk di seberang meja dan bicara dengan tenang.

Aku melangkah pergi, membiarkan mereka dengan pola-pola yang baru saja kutunjukkan.

Pola yang, entah mereka sadari atau tidak, mengarah terlalu dekat.

Ada satu hal yang jarang dibicarakan orang ketika membahas kematian:
bahwa tidak semua orang benar-benar tidak bersalah.

Aku tidak mengatakan mereka pantas mati. Kata pantas terlalu emosional, terlalu sarat penilaian moral. Aku hanya percaya bahwa setiap peristiwa memiliki rangkaian sebab yang rapi. Jika satu ujung rantai ditarik, ujung lain akan bergerak. Tidak ada yang berdiri sendiri.

Itu juga yang ingin aku jelaskan pada mereka, meski aku tahu tidak semua hal bisa diterima dengan kepala dingin.

Di pertemuan berikutnya, mereka mulai membawa berkas. Bukan lagi pertanyaan umum, tapi potongan hidup. Foto-foto lama, salinan identitas, catatan kebiasaan. Para korban kini bukan sekadar angka. Mereka menjadi individu yang bisa dibedah.

Aku memperhatikan bagaimana mereka menyebut nama-nama itu dengan hati-hati, seolah takut salah ucap. Seolah nama bisa menghidupkan kembali sesuatu. Aku tidak memiliki ketakutan itu.

Bagiku, nama hanyalah label.

Aku lebih tertarik pada pola hidup mereka. Jam berapa mereka bangun. Di mana mereka biasa berhenti sebelum pulang. Kebiasaan kecil yang diulang bertahun-tahun sampai berubah menjadi rasa aman palsu. Manusia sering menyebutnya rutinitas. Aku menyebutnya undangan terbuka.

Salah satu penyelidik bertanya pendapatku tentang korban pertama. Ia menyodorkan foto dan menungguku bereaksi.

Aku melihatnya sebentar. Tidak lama.

“Dia ceroboh,” kataku.

Kalimat itu membuat mereka berhenti. Aku tahu itu. Aku bisa merasakannya tanpa perlu menatap wajah mereka.

Aku menjelaskan maksudku dengan nada yang sama seperti ketika membicarakan cuaca. Korban pertama terlalu percaya pada lingkungan sekitarnya. Ia tidak pernah mengubah jalur pulang. Tidak pernah memperhatikan orang-orang yang sama yang muncul di sekitarnya. Ia hidup seolah dunia berutang keselamatan padanya.

“Itu bukan kesalahan besar,” lanjutku. “Tapi kesalahan kecil yang diulang terlalu lama.”

Mereka tidak mencatat kalimat itu. Setidaknya tidak di kertas. Tapi aku tahu kalimat itu tinggal di kepala mereka, mengganggu.

Korban kedua berbeda. Lebih tertutup. Lebih hati-hati, menurut catatan. Tapi justru di sanalah celahnya. Ia percaya bahwa kewaspadaan berarti aman. Ia lupa bahwa manusia paling lengah ketika merasa sudah berhati-hati.

Aku menyebutkan satu kebiasaan kecilnya. Cara ia selalu menoleh dua kali sebelum masuk ke rumah. Cara ia meletakkan kunci di tempat yang sama setiap hari.

Salah satu dari mereka menatapku lama. Terlalu lama untuk sekadar mendengar analisis.

“Anda mengenalnya cukup baik,” katanya.

Aku mengangkat bahu. “Cukup untuk melihat kesalahannya.”

Kalimat itu terasa benar saat keluar dari mulutku. Aku tidak menyesalinya.

Mereka mulai menyadari sesuatu di bab ini—aku bisa merasakannya. Bukan tentang siapa pelaku sebenarnya, tapi tentang caraku berbicara. Tidak ada empati dalam analisaku. Tidak ada kemarahan juga. Hanya penilaian yang dingin, seperti seseorang yang membicarakan benda rusak.

Aku tidak bermaksud merendahkan korban. Aku hanya menempatkan mereka di posisi yang seharusnya: sebagai bagian dari rangkaian peristiwa, bukan pusat tragedi.

Yang menarik, mereka tidak menghentikanku.

Sebaliknya, mereka bertanya tentang korban ketiga. Dan keempat. Mereka ingin tahu apakah aku melihat kesalahan yang sama.

Aku melihat banyak kesamaan. Terlalu banyak, bahkan.

Aku menyadari sesuatu di tengah penjelasanku: aku selalu berada cukup dekat dengan kehidupan mereka. Tidak di pusatnya, tidak di pinggirnya. Di jarak aman—cukup untuk melihat, cukup untuk memahami.

Aku menyebutkannya sebagai kebetulan.

Mereka menyebutnya sebagai keterkaitan.

Ketika salah satu penyelidik bertanya di mana aku berada pada malam korban kedua terakhir terlihat, aku menjawab tanpa ragu. Jawaban yang jujur selalu lebih mudah diingat. Dan jawabanku memang sesuai dengan apa yang mereka miliki.

Itu keindahan dari kebenaran parsial. Ia tidak pernah benar-benar berbohong.

Namun, ada satu momen kecil yang mengubah nada ruangan. Aku menyebutkan detail yang tidak ada di berkas mereka. Sebuah benda kecil yang ditemukan dekat korban ketiga. Benda yang belum diumumkan. Benda yang, menurut laporan, hanya diketahui oleh tim inti.

Aku baru sadar setelah kata-kata itu terucap.

Ruangan menjadi sunyi.

Salah satu dari mereka menutup map perlahan. Yang lain tidak lagi berpura-pura menulis.

Aku menatap mereka, bingung dengan reaksi itu. “Bukankah itu ada di laporan awal?” tanyaku, nada suaraku tulus.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Untuk pertama kalinya sejak aku duduk di ruangan itu, aku merasakan sesuatu yang mendekati ketegangan. Bukan ketakutan—lebih seperti gangguan kecil. Seperti suara yang tiba-tiba berhenti di ruangan sunyi.

Akhirnya, salah satu dari mereka berkata bahwa detail itu belum dibagikan secara luas.

Aku mengangguk. “Mungkin saya mendengarnya dari sumber lain,” kataku. “Atau mungkin saya hanya mengingatnya salah.”

Mereka tidak langsung membantah. Mereka hanya saling pandang.

Aku tahu sejak saat itu, posisiku sedikit bergeser. Aku tidak lagi sepenuhnya di luar lingkaran. Aku mulai masuk ke pusat papan mereka—bukan sebagai jawaban, tapi sebagai tanda tanya.

Saat aku pergi, aku sempat melihat papan di balik pintu kaca. Foto-foto korban terpasang rapi. Garis-garis menghubungkan satu titik ke titik lain. Dan di satu sudut, ada namaku, ditulis kecil, seolah belum yakin pantas diperbesar.

Aku tidak marah melihat itu.

Sebaliknya, aku merasa mereka akhirnya mulai bekerja dengan benar.

Korban memang selalu punya kesalahan.
Yang membedakan hanyalah siapa yang cukup tenang untuk melihatnya.

Ada perbedaan tipis antara wawancara dan interogasi.
Bukan pada jumlah pertanyaan, tapi pada cara seseorang menunggumu menjawab.

Aku merasakannya begitu duduk.

Ruangan itu masih sama, tapi jaraknya terasa lebih pendek. Meja logam seolah bergeser beberapa sentimeter lebih dekat, atau mungkin hanya perasaanku saja. Mereka tidak menyodorkan minuman kali ini. Hal kecil, tapi cukup untuk memberi tahu bahwa pertemuan ini tidak lagi bersifat sopan santun.

Aku tidak keberatan.

Aku justru merasa lebih fokus ketika tidak ada basa-basi.

Mereka memulai tanpa pembukaan panjang. Tidak ada penjelasan tujuan. Tidak ada pengulangan hak-hak yang sudah kuhafal di luar kepala. Salah satu dari mereka membuka map, yang lain menatapku lebih lama dari biasanya.

Aku membiarkan mereka menatap.

Aku sudah cukup lama duduk di hadapan orang-orang yang berpikir tatapan bisa memancing kesalahan. Padahal kesalahan jarang muncul karena tekanan. Ia muncul karena orang lupa apa yang pernah ia katakan.

Aku tidak lupa.

Pertanyaan pertama terdengar sederhana. Tentang waktu. Tentang keberadaanku di hari tertentu. Aku menjawab dengan tenang, menyebutkan jam, menyebutkan alasan. Semua sesuai dengan apa yang pernah kukatakan sebelumnya.

Mereka mengangguk. Mencatat.

Lalu pertanyaan itu kembali, dengan susunan kalimat berbeda.

Aku menjawab lagi. Sama.

Aku bisa mendengar perubahan napas mereka. Sedikit lebih cepat. Sedikit lebih berat. Mereka berharap ada pergeseran kecil—kata yang meleset, jeda yang terlalu panjang. Sesuatu yang bisa ditarik.

Aku tidak memberi mereka itu.

Namun aku sadar, ini bukan lagi tentang jawaban. Ini tentang reaksiku terhadap pengulangan.

Salah satu dari mereka akhirnya bertanya tentang detail yang kusebutkan di pertemuan sebelumnya. Detail kecil yang, menurut mereka, seharusnya tidak kuketahui.

Aku menatapnya, lalu menatap map di depannya. “Yang mana?” tanyaku.

Ia menyebutkannya.

Aku mengangguk pelan. “Ah. Itu.”

Aku mengatakan bahwa ingatan manusia tidak selalu tersusun rapi. Kadang kita menyerap informasi tanpa sadar. Percakapan di tempat umum. Berita yang kita lewatkan tapi tetap masuk ke kepala. Aku bahkan menertawakan diriku sendiri, mengatakan mungkin aku terlalu banyak mendengar cerita orang.

Tawa itu tidak dibalas.

Aku perhatikan, mereka mulai membiarkan jeda lebih lama setelah aku menjawab. Diam yang sengaja dipelihara. Diam yang biasanya membuat orang ingin mengisi kekosongan.

Aku tidak mengisinya.

Aku duduk diam, menunggu pertanyaan berikutnya, seolah diam itu bukan masalah bagiku. Dan memang tidak.

Akhirnya, salah satu dari mereka bertanya sesuatu yang berbeda. Bukan tentang korban. Bukan tentang waktu atau tempat.

“Menurut Anda,” katanya, “apa yang dirasakan pelaku saat melakukan ini?”

Pertanyaan itu menarik.

Aku tidak langsung menjawab. Bukan karena sulit, tapi karena terlalu banyak jawaban yang mungkin. Aku memilih yang paling netral.

“Tidak semua tindakan didorong emosi,” kataku. “Banyak yang lahir dari keputusan.”

Mereka mencatat itu. Aku bisa melihatnya dari sudut mataku.

Aku melanjutkan, mungkin terlalu jauh. Tentang bagaimana orang sering salah memahami kekerasan. Mengira selalu ada amarah di baliknya. Padahal, sering kali yang ada hanya kejelasan tujuan.

Aku baru berhenti bicara ketika menyadari ruangan kembali sunyi.

Tatapan mereka kini berbeda. Bukan lagi sekadar waspada. Ada sesuatu yang lain—usaha untuk menempatkanku di satu kotak tertentu.

Aku merasa perlu meluruskan satu hal.

“Apa pun yang Anda pikirkan,” kataku dengan nada yang tetap sopan, “saya di sini untuk membantu. Saya datang sendiri. Saya menjawab semua pertanyaan.”

Itu benar. Fakta tidak bisa dibantah.

Mereka tidak membalas pernyataanku. Salah satu dari mereka menutup map. Yang lain berdiri, berjalan beberapa langkah, lalu kembali duduk. Gerakan kecil yang mungkin dimaksudkan untuk menggangguku.

Aku hanya mengikuti dengan pandangan.

Ketika sesi itu akhirnya berakhir—atau setidaknya mereka mengatakan demikian—aku tidak langsung bangkit. Aku menunggu sampai mereka benar-benar memberi isyarat bahwa aku boleh pergi.

Di pintu, salah satu dari mereka berkata bahwa mereka mungkin akan memanggilku lagi.

Aku mengangguk. “Tentu,” jawabku. “Saya tidak ke mana-mana.”

Kalimat itu terasa tepat saat kuucapkan.

Di luar ruangan, aku menyadari sesuatu yang sederhana tapi penting:
wawancara ini belum selesai.

Ia hanya ditunda.

Dan selama mereka masih bertanya, selama mereka masih mencoba memahami, aku masih memegang satu hal yang tidak mereka miliki sepenuhnya.

Versiku tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Ada satu kalimat yang sering diulang orang-orang di gedung itu:
bukti tidak pernah berbohong.

Aku tidak sepenuhnya setuju. Bukti tidak bisa berbohong, tapi manusia bisa salah membacanya. Dan kesalahan membaca sering kali lebih berbahaya daripada kebohongan itu sendiri.

Aku mengatakan itu pada diriku sendiri ketika mereka mulai menampilkan temuan-temuan baru. Tidak dalam bentuk tuduhan. Belum. Mereka masih menggunakan nada profesional, seolah semua ini hanya pembaruan rutin yang perlu kuketahui sebagai “pihak yang kooperatif”.

Aku duduk dan mendengarkan.

Mereka berbicara tentang serat kain. Tentang jejak yang terlalu kecil untuk diperhatikan orang awam. Tentang waktu yang menyempit menjadi rentang menit, bukan lagi jam. Setiap detail dipresentasikan seperti potongan puzzle yang belum dirangkai, tapi aku bisa melihat bentuk akhirnya dari jauh.

Dan bentuk itu mulai menyerupai bayanganku sendiri.

Aku tidak panik. Panik hanya muncul ketika seseorang kehabisan penjelasan. Aku masih punya banyak.

Ketika mereka menyebutkan bahwa salah satu serat ditemukan di dua lokasi berbeda, aku mengangguk pelan. Aku mengatakan itu masuk akal. Serat berpindah. Orang berjalan. Dunia tidak steril.

Mereka setuju. Tapi tidak sepenuhnya.

Lalu mereka menyebutkan rekaman. Bukan wajah. Bukan kejadian langsung. Hanya bayangan seseorang di sudut kamera, di jam yang seharusnya kosong. Postur tubuhnya tidak jelas. Jalannya biasa saja.

Terlalu biasa.

Aku memperhatikan cara mereka mengamatiku saat membicarakan itu. Mereka tidak lagi mencari reaksi spontan. Mereka mencari ketidaksesuaian. Perubahan kecil di nada suara. Di pilihan kata.

Aku berhati-hati.

Aku berkata bahwa kamera sering menipu. Sudut pandang menciptakan ilusi. Aku bahkan menyebutkan beberapa kasus lama—contoh orang yang salah dituduh hanya karena siluet yang mirip. Mereka mencatat semuanya, tapi kali ini catatan itu terasa berbeda. Lebih seperti pengarsipan daripada pencarian.

Ada satu momen ketika salah satu dari mereka menyebutkan waktu yang sangat spesifik. Terlalu spesifik.

Aku hampir mengoreksinya.

Aku menahan diri tepat waktu.

Diam sesaat di ruangan itu terasa lebih berat dari sebelumnya. Aku menyadari, untuk pertama kalinya, bahwa keheningan tidak lagi netral. Keheningan kini mengandung arah.

Mereka kemudian bertanya tentang sesuatu yang sangat kecil—hal yang bahkan tidak kuanggap penting sebelumnya. Sebuah kebiasaan. Sebuah rute singkat. Sebuah pilihan yang tampak sepele.

Pertanyaan itu sederhana. Jawabanku juga sederhana.

Namun aku tahu, jawaban itu akan dibandingkan. Dipasangkan dengan data. Dengan catatan waktu. Dengan kemungkinan-kemungkinan yang tidak lagi abstrak.

Aku mulai merasakan perubahan di dalam diriku. Bukan ketakutan. Lebih seperti kesadaran bahwa narasi tidak lagi sepenuhnya berada di tanganku. Ada versi lain yang mulai tumbuh, versi yang tidak membutuhkan penjelasanku untuk bertahan.

Aku mengatakan pada mereka bahwa bukti harus dilihat dalam konteks. Bahwa manusia bukan variabel tetap. Bahwa satu kesamaan tidak otomatis berarti keterkaitan.

Mereka mendengarkan. Selalu mendengarkan. Tapi aku bisa melihat perbedaan itu kini jelas: mereka tidak lagi diyakinkan—mereka sedang menguji.

Ketika sesi itu berakhir, aku berdiri dengan perasaan yang asing. Bukan kalah. Bukan juga menang. Lebih seperti permainan yang aturannya baru saja diubah, tanpa pemberitahuan.

Di lorong, aku melewati papan pengumuman. Di sana, secara tidak sengaja, aku melihat pantulan diriku di kaca. Wajah yang sama. Ekspresi yang sama. Tidak ada yang berubah secara fisik.

Tapi di balik itu, ada sesuatu yang bergeser.

Aku menyadari satu hal yang sederhana namun penting:
selama ini aku berbicara tentang pola seolah aku berada di luar lingkarannya.

Padahal, bukti tidak membutuhkan niat untuk membentuk pola.
Ia hanya membutuhkan pengulangan.

Dan pengulangan—aku tahu itu lebih baik dari siapa pun—
selalu meninggalkan jejak.

Aku selalu percaya bahwa kendali bukan tentang kekuasaan. Kendali adalah tentang pemahaman. Selama seseorang memahami apa yang sedang terjadi, ia masih memegang kendali—setidaknya atas dirinya sendiri.

Dan aku memahami situasi ini jauh lebih baik daripada yang mereka kira.

Mereka mulai mengubah cara bicara. Tidak drastis. Tidak kasar. Tapi aku bisa merasakannya. Pertanyaan tidak lagi dibuka dengan basa-basi. Nama-nama disebut lebih sering. Waktu disebutkan berulang-ulang, seolah dengan mengulanginya, aku akan terpeleset.

Aku tidak terpeleset.

Aku menjawab dengan tenang. Aku memilih kata yang netral. Aku menghindari emosi karena emosi selalu menjadi pintu masuk bagi kesalahan. Mereka mungkin mengira aku sedang dijepit, tapi sebenarnya aku hanya sedang menyederhanakan.

Aku mulai melihat pola mereka. Cara mereka menggiring. Cara satu pertanyaan tampak berdiri sendiri, padahal ia disiapkan untuk disandingkan dengan pertanyaan lain. Aku bahkan bisa menebak pertanyaan berikutnya sebelum diucapkan.

Dan itu memberiku rasa aman.

Aku sadar, rasa aman itu tidak datang dari posisi kuat, tapi dari keyakinan bahwa aku masih lebih cepat. Selama aku bisa memprediksi langkah mereka, aku belum kalah.

Mereka menunjukkan kepadaku sebuah rangkaian kejadian. Disusun rapi. Terlalu rapi, menurutku. Hidup jarang sekali bergerak seteratur itu. Aku menunjukkannya. Aku mengatakan bahwa rangkaian yang sempurna sering kali hasil dari penyuntingan, bukan kenyataan.

Mereka tidak menyangkal. Mereka hanya bertanya apakah aku punya versi lain.

Tentu saja aku punya.

Versiku selalu masuk akal. Selalu realistis. Aku tidak pernah membutuhkan kebohongan besar. Aku hanya perlu menggeser sudut pandang. Mengubah urutan. Menghilangkan satu detail kecil yang terlihat tidak relevan.

Detail kecil selalu menjadi korban pertama dari narasi.

Aku berbicara tentang kebetulan. Tentang bagaimana kota ini penuh persilangan yang tidak disadari. Tentang orang-orang yang berbagi kebiasaan tanpa pernah saling mengenal. Aku bicara lama, tapi tidak berputar-putar. Setiap kalimat punya tujuan.

Aku bisa melihat mereka mendengarkan. Bukan mencatat. Mendengarkan.

Itu pertanda baik.

Namun di tengah semua itu, ada satu hal yang menggangguku. Bukan pertanyaan mereka—melainkan ketenanganku sendiri. Terlalu stabil. Terlalu terlatih. Aku mulai bertanya-tanya sejak kapan aku belajar berbicara seperti ini.

Aku mengingat kembali kejadian-kejadian lama. Bukan untuk menyesalinya, tapi untuk memastikan aku tidak salah mengingat. Ingatan adalah alat. Jika alat itu tumpul, semua perhitungan runtuh.

Aku masih ingat dengan jelas. Terlalu jelas.

Aku menyadari bahwa selama ini aku menganggap kendali sebagai sesuatu yang aktif—sesuatu yang harus kupegang. Padahal, mungkin kendali bekerja lebih baik ketika ia tidak terlihat. Ketika orang lain merasa mereka yang memimpin, padahal jalurnya sudah ditentukan.

Pemikiran itu menenangkanku.

Mereka kemudian mengatakan bahwa proses ini akan berlanjut. Bahwa ada beberapa hal yang perlu ditinjau ulang. Tidak ada ancaman. Tidak ada penahanan. Hanya kalimat formal yang dibungkus nada sopan.

Aku mengangguk. Aku mengatakan aku siap membantu.

Dan aku memang siap.

Saat aku melangkah keluar, aku merasa ringan. Aneh, mengingat situasinya. Tapi keyakinan itu kembali: selama aku masih bisa menjelaskan, selama aku masih bisa merangkai kata, aku belum kehilangan apa pun.

Aku bahkan sempat tersenyum kecil.

Karena aku tahu satu hal yang sering dilupakan orang:
kebenaran tidak selalu muncul lebih cepat dari cerita.

Dan selama cerita masih bisa dikendalikan,
kebenaran hanya akan menunggu giliran—
atau kehabisan waktu.

Kesalahan terbesar manusia bukanlah melakukan hal yang salah.
Kesalahan terbesar adalah merasa terlalu yakin telah melakukan semuanya dengan benar.

Aku baru menyadari itu belakangan.

Bukan dari cara mereka berbicara. Bukan dari perubahan sikap. Tapi dari satu hal kecil yang seharusnya kuabaikan—namun justru kujelaskan terlalu jauh.

Pertanyaannya sederhana. Tentang urutan waktu. Tentang apa yang kulakukan sebelum dan sesudah sebuah peristiwa yang, menurut mereka, relevan. Aku menjawabnya dengan lancar. Terlalu lancar.

Aku menambahkan konteks. Aku memperhalus transisi. Aku memastikan semuanya terdengar logis dan utuh. Saat itu, aku merasa sedang membantu mereka memahami gambaran besar.

Padahal, aku sedang memberi mereka sesuatu yang tidak mereka minta.

Aku menyebutkan satu detail tambahan. Tidak besar. Tidak mencolok. Sebuah kebiasaan kecil yang, menurutku, justru memperkuat ceritaku. Aku bahkan tidak langsung menyadari dampaknya ketika kata-kata itu keluar.

Mereka tidak menghentikanku. Tidak mengoreksi. Tidak bereaksi.

Dan justru di situlah kesalahannya.

Aku terbiasa membaca reaksi. Terbiasa menangkap sinyal. Tapi kali ini, mereka membiarkanku berjalan sendiri—melewati batas yang tidak kutandai.

Setelah itu, ritme berubah. Tidak terlihat, tapi terasa. Pertanyaan berikutnya datang lebih lambat. Lebih spesifik. Tidak lagi mencoba membentuk cerita, melainkan memeriksa konsistensi.

Aku masih tenang. Aku masih menjawab. Tapi kini aku harus mengingat kembali apa yang barusan kukatakan, bukan hanya apa yang sebenarnya terjadi.

Itu melelahkan.

Aku mulai mengulang kalimat dengan struktur yang mirip. Kata-kata yang sama, hanya disusun ulang. Biasanya itu cukup. Biasanya manusia mendengar pola sebagai kebenaran.

Namun kali ini, pola itu mulai terlihat sebagai pola.

Aku melihat salah satu dari mereka menunduk, bukan untuk mencatat, tapi untuk membaca sesuatu. Sebuah catatan lama. Sesuatu yang sudah ada sebelum aku masuk ruangan.

Dan untuk pertama kalinya, aku bertanya dalam hati:
sejak kapan mereka tahu bagian ini?

Aku mencoba menarik kembali detail tadi—menyederhanakannya, menormalkannya. Tapi kata-kata tidak bekerja seperti itu. Sekali diucapkan, ia tidak bisa dipanggil pulang.

Aku menyadari, dengan perasaan yang dingin dan jernih, bahwa kendali tidak hilang karena tekanan. Kendali hilang karena kelebihan kepercayaan diri.

Mereka akhirnya menyebutkan kembali detail kecil itu. Kali ini dalam bentuk pertanyaan ulang. Nada mereka masih sopan. Masih netral. Tapi kini, pertanyaan itu berdiri sendiri—tanpa konteks yang kuberikan.

Dan terdengar berbeda.

Aku menjawabnya. Tentu saja aku menjawabnya. Tapi jawabanku kini harus menyesuaikan dua versi: versi yang kubuat barusan, dan versi yang sudah lebih dulu mereka simpan.

Aku bisa merasakan celah itu. Tipis. Hampir tak terlihat. Tapi cukup untuk dimasuki.

Saat sesi berakhir, aku tahu sesuatu telah berubah secara permanen. Tidak ada tuduhan. Tidak ada konfrontasi. Tapi aku tidak lagi merasa melangkah di depan.

Untuk pertama kalinya, aku merasa sedang mengejar.

Aku berjalan keluar dengan langkah yang sama, wajah yang sama, sikap yang sama. Tidak ada yang bisa menunjukkan perbedaan itu dari luar.

Namun di dalam, aku memahami satu kenyataan yang tidak bisa kuganggu gugat:
kesalahan paling berbahaya bukanlah yang besar dan mencolok.

Melainkan yang kecil, masuk akal,
dan terasa tidak perlu disembunyikan.

Dan kesalahan seperti itu…
selalu diingat oleh orang yang tahu apa yang harus dicari.

Aku selalu tahu akhir cerita tidak pernah datang dengan suara keras. Ia datang pelan, hampir sopan. Seperti seseorang yang berdiri terlalu dekat, tapi tidak menyentuh.

Mereka tidak lagi bertanya banyak hari itu.

Itu hal pertama yang kusadari.

Tidak ada rangkaian panjang. Tidak ada upaya memancing. Hanya beberapa pertanyaan pendek yang tidak membutuhkan penjelasan tambahan. Seolah mereka sudah tahu bagian mana yang tidak perlu lagi dibuka.

Aku menjawab sebagaimana biasanya. Tenang. Terstruktur. Tapi aku bisa merasakan perbedaan pada diriku sendiri. Jawaban-jawaban itu kini terdengar seperti pengulangan, bukan penjelasan. Seperti rekaman yang diputar ulang, sedikit aus di bagian tertentu.

Ada satu momen ketika salah satu dari mereka menatapku lebih lama dari sebelumnya. Bukan tatapan curiga. Bukan tatapan marah. Lebih seperti memastikan sesuatu yang sudah dipastikan.

Dan aku mengerti.

Bukan karena mereka mengatakan apa pun, tapi karena tidak ada lagi yang perlu dikatakan.

Aku menyadari bahwa selama ini aku mengira cerita adalah pelindung. Bahwa selama aku bisa merangkai sebab dan akibat, aku bisa mengarahkan pemahaman orang lain. Tapi aku lupa satu hal mendasar: cerita hanya bekerja selama ia dibutuhkan.

Dan kini, ia tidak lagi dibutuhkan.

Mereka mulai membicarakan hal-hal praktis. Prosedur. Waktu. Langkah berikutnya. Kata-kata itu melayang di udara tanpa benar-benar menyentuhku. Fokusku justru tertarik pada satu detail kecil—cara mereka tidak lagi mencatat setiap ucapanku.

Aku bukan sumber informasi lagi.

Aku hanya bagian dari rangkaian.

Ada kelegaan aneh yang muncul bersamaan dengan kesadaran itu. Bukan kelegaan karena lolos. Tapi karena tidak lagi harus menjaga apa pun. Tidak lagi harus menghitung kata, menimbang jeda, atau memperbaiki ingatan.

Aku duduk diam, dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu mengisi keheningan.

Aku teringat pada semua pola yang pernah kubicarakan. Tentang pengulangan. Tentang jejak. Tentang detail kecil yang dianggap tidak penting. Semua itu kini tersusun rapi—bukan olehku, tapi di sekelilingku.

Aku sempat berpikir untuk mengatakan sesuatu. Satu kalimat terakhir yang rapi. Yang masuk akal. Yang menutup semuanya dengan baik.

Tapi aku tahu, apa pun yang kukatakan sekarang tidak akan mengubah apa pun.

Cerita telah selesai bekerja.

Yang tersisa hanyalah apa adanya.

Saat mereka berdiri dan membuka pintu, aku berdiri juga. Gerakanku otomatis. Terlatih. Seperti semua hal lain sebelumnya. Aku melangkah mengikuti arah yang ditunjukkan, tanpa bertanya.

Di lorong itu, aku kembali melihat pantulan diriku di kaca. Masih wajah yang sama. Masih ekspresi yang terkendali. Tidak ada monster. Tidak ada perubahan dramatis.

Hanya seseorang yang akhirnya berada tepat di tempat semua polanya mengarah.

Dan di saat itu, aku memahami sesuatu dengan sangat jelas:
bukan kebenaran yang menghancurkanku.

Melainkan kenyataan bahwa aku tidak lagi perlu berbohong—
bahkan pada diriku sendiri.

Kamis, 25 Desember 2025

Kisah Horor Monolog Fiksi : Penyetelan




Karya ini merupakan sebuah cerita fiksi horor psikologis yang ditujukan sebagai konten hiburan, eksplorasi karakter, dan naskah teater monolog. Seluruh tokoh, tempat, dan kejadian dalam cerita ini adalah murni imajinasi penulis.

Narasi ini mengandung unsur gangguan psikologis, obsesi gelap, dan situasi yang menegangkan yang mungkin tidak nyaman bagi sebagian pembaca. Cerita ini sama sekali tidak untuk ditiru dan tidak bertujuan untuk mempromosikan atau menginstruksikan tindakan kekerasan, perilaku berbahaya, maupun pelanggaran hukum di kehidupan nyata.

Pembaca diharapkan bijak dalam mengonsumsi konten ini


Kalian tahu apa yang paling menjijikkan dari manusia? ... Garis-garis yang tidak lurus.
Tadi pagi, aku melihat tetangga bawah, Pak RT, memakai kaus kaki yang tingginya beda sebelah. Satu di atas mata kaki, satu lagi melorot. Dia bicara padaku soal iuran sampah, tapi aku tidak dengar. Fokusku... pecah. Aku cuma mau ambil gunting di saku... dan memotong kakinya supaya simetris.
Tapi tentu saja, aku cuma tersenyum. Aku kan "Adrian yang sopan".
Setiap pagi itu sama. Harus sama. Sprei kaku tanpa kerutan. Kopi tanpa ampas—sama sekali tidak boleh ada butiran pasir di dasar cangkir. Kalau ada satu butir saja yang tersangkut di gigiku, aku bisa merasa dunia ini miring seharian. Retak. Berantakan.
Bu Ani. Lagi.
Tawanya itu... seperti suara kaca pecah yang diinjak-injak. Crak. Crak. Crak. Tidak ada ritmenya. Dia tertawa jam tujuh pagi cuma karena melihat kucing mengejar ekornya sendiri. Manusia-manusia ini... mereka hidup seperti binatang liar. Berisik. Mengotori udara dengan suara-suara yang tidak perlu
 Tahu tidak apa yang kulakukan pada AC tetangga sebelah tadi malam? Dia pikir AC-nya cuma "sembuh" sendiri. Tidak. Aku masuk lewat celah ventilasi. Aku cuma tidak tahan dengar suara getaran bautnya yang longgar itu. Drrrr... drrrr... Sepanjang malam. Seperti ada serangga yang merayap di dalam gendang telingaku.
Aku hanya memutar bautnya. Setengah putaran ke kanan. Klik. Senyap.
Aku suka rasa saat sesuatu yang salah... akhirnya dipaksa jadi benar. Rasanya lebih baik daripada seks. Rasanya seperti... menjadi Tuhan yang membawa obeng.
Dunia ini penuh dengan sampah yang harus dipilah. Orang-orang yang berisik, orang-orang yang jalannya miring, orang-orang yang bernapas terlalu keras di kereta... mereka itu cuma kegagalan produksi. Dan tugas konsultan seperti aku?
Menyetel ulang semuanya. Sampai tidak ada lagi suara. Sampai semuanya... diam.
Mari kita lihat... siapa yang paling berisik hari ini
Bau ini. Kalian tidak akan menemukannya di toko parfum manapun. Bau debu tua, logam, dan... sedikit sisa keringat yang sudah mengering bertahun-tahun. Bau keberadaan.
Ini. Sisir plastik murah. Warnanya pink, sudah pudar. Masih ada tiga helai rambut pirang yang melilit di giginya. Milik... ah, siapa namanya? Aku lupa. Tapi aku ingat caranya memegang kepala saat dia pusing. Dia selalu menyisir rambutnya ke arah kiri. Terlalu sering. Sampai kulit kepalanya merah. Sekarang? Dia tidak perlu menyisir lagi. Rambutnya sudah tenang di bawah tanah.
Orang-orang bodoh mengumpulkan perangko atau koin. Untuk apa? Benda-benda itu tidak punya cerita. Tapi kacamata ini? Aku ingat wajah pemiliknya saat lensa ini retak. Prak. Persis di depan mataku. Dia menatapku—bukan dengan benci, tapi bingung. Seolah-olah dia tidak percaya bahwa dunianya yang rapi bisa hancur cuma karena satu hentakan tanganku.
Dunia ini penuh dengan wajah-wajah yang... sia-sia.
Lihat pria ini. Makan siang sendirian, mengupil, lalu mengusapnya ke bawah kursi. Menjijikkan. Dia sudah tidak ada. Dan yang ini? Gadis yang selalu menangis di telepon umum. Dia sudah diam sekarang. Aku yang mendiamkannya.
Tapi dia... Siska.
Dia ini masalah. Lihat matanya. Dia selalu melihat ke atas. Ke langit, ke awan, ke apa saja... seolah-olah ada sesuatu di sana yang akan turun dan menyelamatkannya. Harapan. Itu penyakitnya. Dia terlalu "terang". Baunya seperti sabun bayi dan optimisme yang naif.
Setiap kali aku melihatnya lewat di depan kantorku, aku merasa seperti ada kerikil di dalam sepatuku. Mengganjal. Menyakitkan. Dia tidak pas dengan pemandangan kota yang abu-abu ini. Matanya yang selalu mencari pertolongan itu... harus aku tutup. Bukan dengan paksa. Bukan dulu.
Aku harus mengosongkan mata itu. Aku ingin dia melihat ke arahku, dan tidak menemukan apa-apa lagi di sana. Hanya kekosongan yang jujur.
Sabar ya, Siska. Aku tidak akan mengambil nyawamu. Belum. Aku akan mengambil cahayamu dulu. Satu... demi satu. Sampai kau memohon padaku untuk mematikan lampunya.
Tidakkah kalian merasakannya? Bau manusia... Bau kecemasan, parfum murah yang menempel di keringat, dan sisa sarapan yang membusuk di mulut mereka. Di sini, di dalam kotak besi ini, kita semua cuma sekumpulan daging yang digiling jadi satu.
Saling senggol. Saling sikut. Dan tidak ada satupun yang minta maaf. Mereka hidup seperti kecoa yang panik saat lampu dinyalakan. Berantakan. Tanpa sistem.
Lalu... ada dia. Lihat si jas biru itu. Suaranya... Tuhan, suaranya seperti knalpot rusak. Dia sedang memaki seseorang di ujung telepon. "Kerja kamu sampah!" katanya. Padahal dia sendiri? Dia tidak sadar kancing kemejanya salah pasang satu lubang. Dia mengkritik efisiensi orang lain, sementara dia sendiri adalah sebuah kegagalan simetri.
Dia membuatku... gatal.
Aku selalu membawa "penawar" untuk orang-orang seperti dia. Kecil. Tipis. Hampir tidak terlihat jika aku tidak menginginkannya terlihat.
Sedikit lebih dekat. Biarkan kereta bergoyang. Manfaatkan momentumnya. Satu... dua...
Cekit.
Cuma seperti gigitan nyamuk. Dia bahkan tidak berhenti bicara. Dia cuma menggaruk lengannya, lalu lanjut memaki. Bodoh. Dia tidak tahu kalau di dalam pori-porinya sekarang ada cairan yang akan membuat paru-parunya merasa seperti diperas oleh tangan raksasa dalam sepuluh menit ke depan. Reaksi anafilaksis. Alergi yang "tidak disengaja".
Kereta berhenti. Aku turun. Dia tetap di sana, melaju menuju ajalnya sendiri.
Besok pagi, aku akan melihat berita kecil di halaman sepuluh. "Pria malang tewas karena alergi mendadak di kantor." Dan aku? Aku akan duduk di mejaku, meminum kopi yang ditimbang dengan tepat, dan tersenyum.
Aku tidak membunuhnya. Aku hanya... mengoreksi kebisingannya. Dunia jadi sedikit lebih sunyi sekarang. Satu nada sumbang berhasil dihapus.
Eksperimen hari ini sukses. Jarumnya bekerja dengan baik. Sekarang... aku jadi penasaran. Bagaimana reaksi Siska kalau aku menyuntikkan sesuatu yang berbeda ke dalam hidupnya? Bukan ke lengannya. Tapi ke... kepalanya.
Satu, dua, kiri. Satu, dua, kanan. Sempurna.
Kalian tahu apa yang paling menyedihkan dari Siska? Dia... terlalu transparan. Hidupnya seperti buku saku yang bisa kau beli di bandara. Murah. Mudah ditebak.
Jam enam pagi, dia jogging. Selalu rute yang sama. Menghindari genangan air, berhenti di lampu merah yang sama, dan selalu... selalu tersenyum pada tukang sapu jalanan yang bahkan tidak tahu namanya. Untuk apa? Senyum itu cuma pemborosan energi.
Lalu hari Minggunya. Oh, hari Minggu yang suci. Dia pergi ke panti jompo itu. Membawakan bunga-bunga yang akan mati dalam dua hari untuk ibunya yang bahkan tidak ingat siapa dirinya sendiri. Aku sudah memperhatikannya dari seberang jalan. Dia duduk di sana, memegang tangan wanita tua yang sudah tinggal kulit dan tulang itu, lalu membisikkan sesuatu yang optimis.
Itu membuat perutku mual. Optimisme adalah kanker. Itu membuat orang jadi buta. Dia pikir dunia akan memberinya hadiah karena dia "baik"?
Aku butuh dia melihatku. Bukan sebagai "Adrian sang konsultan", tapi sebagai sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Tapi aku harus sabar. Kau tidak bisa langsung mematahkan sayap kupu-kupu; kau harus membiarkannya merasa aman dulu di atas jarimu.
Kemarin, aku mulai masuk ke dalam radar-nya. Aku menjadi relawan di panti jompo itu. Memakai seragam putih yang kaku, tersenyum dengan rapi—senyum yang sudah kulatih di depan cermin selama dua jam. Aku membantunya membawakan vas bunga.
"Terima kasih, Mas," katanya. Suaranya... cih, suaranya terlalu cerah. Seperti lampu yang terlalu terang di tengah malam. Sangat mengganggu.
ku sudah menemukan tuasnya. Ibunya. Kasih sayangnya adalah titik lemahnya. Orang yang peduli pada orang lain adalah orang yang paling mudah untuk dihancurkan. Mereka memberikan kunci rumah mereka secara sukarela lewat empati.
Aku mulai merancang "pertemuan kebetulan" berikutnya. Sedikit tumpahan kopi di kafe favoritnya hari Selasa depan. Aku akan ada di sana. Membawa tisu, membawa maaf, dan membawa kehancurannya tanpa dia sadari.
Siska yang malang. Dia pikir dia sedang berteman dengan seorang malaikat. Dia tidak tahu kalau dia sedang mengundang badai masuk lewat jendela kamarnya. Aku akan membedah hidupnya, bagian demi bagian. Aku ingin melihat kapan tepatnya tawa menjijikkan itu akan berubah menjadi isakan yang... simetris.
Sedikit dorongan lagi. Sedikit tekanan pada tuas yang tepat. Dan... cekrak.
Pernahkah kalian melihat gedung tinggi yang dirubuhkan? Bukan dengan bom besar, tapi dengan mencabut bautnya satu per satu. Perlahan. Diam-diam. Sampai struktur itu tidak kuat lagi menahan bebannya sendiri.
Itulah yang sedang kulakukan pada Siska. Kemarin, aku mengirim "hadiah" kecil untuk pacarnya. Hanya beberapa foto hasil editan yang sangat rapi. Siska sedang tertawa di sebuah bar dengan pria asing—yang sebenarnya adalah aku, tapi dengan sudut pengambilan gambar yang... sedikit kabur.
Oh, kalian harus lihat wajahnya saat mereka bertengkar di parkiran. Suara Siska yang biasanya seperti lonceng itu... pecah. Dia menangis, memohon, bersumpah dia tidak tahu siapa pria itu. Tapi keraguan adalah racun yang bekerja cepat. Begitu kau menyuntikkannya ke dalam sebuah hubungan, tidak ada obat penawarnya.
Dan di kantor? Itu bagian favoritku. Aku hanya perlu waktu tiga menit saat dia pergi ke toilet. Menghapus satu file presentasi penting, lalu menggantinya dengan folder kosong yang diberi nama "Draft Akhir".
Saat rapat tadi pagi, dia berdiri di sana, di depan bosnya, membeku. Wajahnya yang biasanya cerah berubah menjadi pucat, seperti kertas yang baru saja disiram air. Dia terlihat bodoh. Ceroboh. Tidak kompeten. Persis seperti yang aku inginkan.
(Adrian mencondongkan tubuh, suaranya mengecil menjadi bisikan intim)
Tapi bagian terbaiknya adalah... aku ada di sana untuk "menyelamatkannya". Aku adalah orang yang menepuk bahunya di pantry, memberikan tisu, dan mendengarkan semua keluh kesahnya.
"Dunia memang tidak adil, Siska," kataku padanya. Aku menatap matanya dalam-dalam. Matanya yang dulu selalu melihat ke langit... sekarang mulai menatap lantai. Dia mulai mencari pegangan. Dan pegangan itu... adalah tanganku yang dingin.
Dia mulai retak. Aku bisa melihat garis-garis halus kecemasan di dahinya. Dia tidak lagi tersenyum pada tukang sapu. Dia tidak lagi jogging. Dia hanya duduk di meja kerjanya, menatap kosong, bertanya-tanya mengapa dunianya yang sempurna tiba-tiba runtuh.
Dia pikir ini nasib buruk. Dia tidak tahu kalau ini adalah operasi bedah. Aku sedang mengangkat "tumor harapan" dari otaknya. Aku sedang menyetel ulang frekuensinya agar selaras dengan kegelapanku.
Satu baut lagi, Siska. Hanya perlu satu hentakan kecil lagi, dan kau akan jatuh tepat di telapak tanganku.
Indah sekali... melihat sesuatu yang indah hancur dengan begitu rapi.
Satu kesalahan. Cuma satu. Dan semuanya terasa seperti... pasir yang merosot dari genggamanku.
Tadi malam, aku terlalu fokus pada rekaman suara Siska. Aku lupa. Aku lupa mematikan lampu di unit seberang—unit yang seharusnya kosong. Dan siapa yang harus lewat di sana? Pak Rudi. Si tua bangka yang hidungnya selalu ingin tahu urusan orang lain.
"Lho, Mas Adrian? Kok lampunya nyala? Bukannya itu unit kosong?"
Lalat kecil. Dia berdiri di sana dengan daster kumalnya, memegang kantong sampah, dan menatapku seolah dia baru saja menemukan rahasia negara. Aku ingin sekali mencekiknya di sana. Merasakan tulang lehernya yang rapuh itu... krak. Supaya dia tidak bisa bertanya lagi. Supaya dia tidak bisa mengendus-endus hidupku.
Aku harus tetap tenang. "Oh, mungkin korsleting, Pak," kataku. Aku tersenyum. Tapi aku tahu dia tidak percaya. Orang-orang seperti dia... mereka tidak punya hidup sendiri, jadi mereka mencuri hidup orang lain lewat lubang kunci.
Gara-gara dia, frekuensiku terganggu. Aku jadi merasa ada mata di setiap sudut lorong. Setiap kali pintu apartemen tetangga terbuka, aku merasa mereka sedang membicarakanku. Menunjukku. "Itu dia, si pria yang rapi. Ada sesuatu yang salah dengannya."
Lucu, bukan? Aku bisa membunuh pria di kereta tanpa jejak. Aku bisa menghancurkan mental Siska dalam hitungan minggu. Tapi aku hampir hancur cuma karena seorang pria tua yang tidak tahu cara membuang sampah dengan benar.
Aku sudah menanganinya. Tadi pagi, aku masuk ke rumahnya saat dia lari pagi. Aku mengambil surat tagihan bank yang penting miliknya, lalu menyelipkannya di bawah pintu Pak RT dengan catatan palsu yang menghina. Biarkan lalat-lalat itu saling cakar. Biarkan mereka sibuk dengan drama sampah mereka sendiri.
api jamnya sudah berdetak. Pak Rudi adalah tanda. Dunia mulai menyadari kehadiranku. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Siska sudah matang. Dia sudah cukup hancur.
Aku harus segera membawanya. Ke tempat yang sunyi. Ke tempat di mana tidak ada Pak Rudi, tidak ada tawa Bu Ani, tidak ada suara kereta. Hanya aku, dia, dan kesunyian yang sempurna.
Waktunya pindah ke babak final. Persiapan di rumah pedesaan... harus selesai malam ini. Tanpa kesalahan lagi.
Lihat dia. Akhirnya... dia berhenti bertanya.
Dia duduk di sampingku, meringkuk seperti anak kucing yang kedinginan. Kepalanya bersandar di kaca jendela yang berembun. Dia tidak tahu kita ada di mana, dan dia tidak peduli. Dia sudah terlalu lelah untuk peduli. Dunianya sudah kuhancurkan sampai tidak ada lagi tempat untuk berpijak, dan sekarang... aku adalah satu-satunya pelabuhan yang tersisa baginya.
Bau mobil ini... bau vanila dan ketakutan yang tersamar. Siska tadi sempat berterima kasih padaku. "Terima kasih, Adrian," katanya dengan suara yang parau. "Terima kasih sudah membawaku pergi dari semua kekacauan ini."
Dia tidak tahu kalau "kekacauan" itu adalah aku. Dan tempat yang kita tuju? Itu bukan pelarian. Itu adalah penyelesaian.
Di depan sana, di balik pohon-pohon pinus yang gelap itu, rumah pedesaanku sudah menunggu. Aku sudah menyiapkan semuanya. Ruang bawah tanah itu... oh, itu karya terbesarku. Kedap suara. Dingin. Dan sangat, sangat teratur. Tidak ada Pak Rudi di sana. Tidak ada suara kereta yang bising. Hanya ada aku, dia, dan kejujuran.
Aku sudah memasang speaker kecil di setiap sudut ruangan itu. Aku akan memutar rekaman suara pertengkarannya dengan pacarnya, suara bosnya yang memaki, suara tawa Bu Ani... aku akan memutarnya berulang-ulang sampai dia menyadari bahwa dunia luar memang berisik dan kejam. Sampai dia memohon padaku untuk mematikan suaranya.
Dan saat itulah, aku akan memberikan hadiah terakhir untuknya: Sunyi yang abadi.
Kita sampai. Lihat, Siska. Gerbangnya terbuka menyambutmu. Rumah ini tidak punya jendela di bagian bawah. Tidak perlu. Kau tidak perlu melihat ke langit lagi. Kau tidak perlu mencari pertolongan yang tidak akan pernah datang.
Ayo, sayang. Turunlah. Aku akan membantumu membawakan tasmu. Aku akan menuntunmu masuk ke dalam labirinku. Dan begitu pintu itu kukunci... kau tidak akan pernah perlu merasa tidak sempurna lagi.
Selamat datang di tempat di mana semuanya... berhenti.
Lihat sekelilingmu, Siska. Tidak ada suara, bukan? Hanya detak jantungmu sendiri yang bisa kau dengar. Akhirnya... kau selaras dengan frekuensiku. Tidak ada lagi langit untukmu, hanya dinding beton yang jujur.
Kau tahu, aku paling benci saat kau bicara. Tapi sekarang, aku ingin dengar suaramu yang pecah itu. Katakan sesuatu. Mohonlah padaku.
Apa? Apa yang kau katakan? ... Bagaimana kau tahu nama Bu Ani?
 Jangan bercanda. Kau tidak mungkin tahu tentang pria di kereta itu. Dia... dia mati karena alergi. Itu kecelakaan. Semua orang tahu itu kecelakaan!
Berhenti. Berhenti bicara! Dari mana kau tahu tentang ruang bacaku? Tentang sisir pink itu? ... Tidak, tidak, tidak. Kau seharusnya hancur! Kau seharusnya menjadi koleksiku yang paling rapuh!
Penyamaran? Detektif? ...
Jadi selama ini, saat aku mengamatimu, kau sedang... menghitung langkahku? Saat aku merusak hidupmu, kau sedang... mengumpulkan bukti?
Semuanya... palsu. Tawamu yang mengganggu, optimismemu yang mual, bahkan ibumu yang sakit... semuanya cuma umpan? Dan aku... aku si jenius Adrian... cuma ikan bodoh yang melompat ke dalam jaringmu?
Kekacauan. Ini kekacauan! Dindingku retak. Sistemku... meledak. Aku tidak bisa menyetel ini kembali. Aku tidak bisa memperbaikinya!
Indah... benar-benar indah. Kau melakukannya lebih rapi dariku, Siska. Kau menyusun skenario ini dengan sudut sembilan puluh derajat yang sempurna. Kau memasukkan aku ke dalam kotak spesimen milikku sendiri.
Ternyata... ini rasanya menjadi "bagian yang rusak". Ternyata... ini rasanya menjadi nada sumbang.
Matikan lampunya, Siska. Aku sudah siap... untuk sunyi.