Kamis, 19 Februari 2026

“Bayangan di Cermin Retak”

 



Bab 1 – Rumah yang Terlalu Sunyi 


Raka tidak pernah menyukai rumah besar.


Rumah warisan itu berdiri di ujung jalan buntu, dikelilingi pepohonan tinggi yang membuat langit tampak lebih sempit dari seharusnya. Cat dindingnya mengelupas, pagar besinya berderit seperti menolak disentuh, dan jendela-jendelanya memantulkan cahaya sore dengan cara yang membuatnya terasa seperti sedang diawasi.


Ia berdiri cukup lama di depan pintu sebelum akhirnya memasukkan kunci.


Sudah lima tahun sejak ia terakhir kali menginjakkan kaki di kota kecil itu—kota yang selalu terasa terlalu pelan, terlalu sunyi, terlalu penuh kenangan yang tak pernah ia minta. Setelah ibunya meninggal, rumah itu kosong. Tidak ada yang benar-benar ingin merawatnya. Hingga akhirnya surat dari notaris memaksanya kembali.


Pintu terbuka dengan suara engsel yang mengeluh panjang.


Aroma kayu tua dan debu menyergapnya. Raka melangkah masuk, langkahnya menggema di ruang tamu yang luas dan kosong. Tirai panjang berwarna krem bergoyang perlahan tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka.


Ia yakin tadi semua jendela tertutup.


Raka berhenti.


Mungkin angin dari celah. Rumah tua selalu punya suara dan kebiasaan anehnya sendiri, ia mencoba meyakinkan diri.


Ia menutup pintu dan menguncinya.


Sunyi.


Sunyi yang berbeda dari sunyi apartemen kota. Sunyi ini terasa… hidup. Seolah ada sesuatu yang menunggu suara lain untuk menjawab.


Raka menggeleng pelan, lalu menarik koper masuk ke kamar lamanya di lantai dua. Setiap langkah di tangga kayu menimbulkan bunyi berderak yang terlalu keras untuk rumah sekosong ini.


Saat ia sampai di puncak tangga, ia merasa ada sesuatu yang janggal.


Bau.


Tipis. Besi. Seperti… karat.


Ia menoleh ke arah lorong panjang yang menuju kamar mandi dan gudang kecil. Lampu di ujung lorong berkedip sekali, lalu stabil kembali.


“Tenang saja,” gumamnya pada diri sendiri.


Ia membuka kamar lamanya. Segalanya masih seperti dulu—meja belajar kayu, lemari tua, cermin berdiri di sudut ruangan. Sprei sudah diganti oleh seseorang dari jasa pembersih yang ia sewa sehari sebelumnya.


Ia meletakkan koper dan duduk di ranjang.


Raka tidak datang ke kota itu hanya untuk menjual rumah. Ia butuh jarak. Pekerjaannya di kota besar membuatnya sulit tidur selama berbulan-bulan. Psikolognya menyarankan istirahat. Lingkungan baru. Atau mungkin justru kembali ke asal.


Lucu, pikirnya. Rumah ini tak pernah terasa seperti asal.


Malam datang lebih cepat di kota kecil.


Setelah makan seadanya, Raka mematikan lampu dan berbaring. Hanya lampu lorong yang ia biarkan menyala redup.


Ia hampir tertidur ketika mendengar suara itu.


Langkah kaki.


Pelan.


Berat.


Dari bawah.


Raka membuka mata.


Mungkin kayu memuai karena perubahan suhu, pikirnya.


Langkah itu terdengar lagi.


Satu.


Dua.


Berhenti.


Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia duduk perlahan di ranjang, mencoba menangkap arah suara.


Sunyi lagi.


Lalu—


Krek.


Seperti pintu yang dibuka sedikit.


Raka berdiri dan melangkah keluar kamar. Lorong kosong. Lampu redup menciptakan bayangan panjang yang terasa terlalu tajam.


“Hallo?” suaranya terdengar kecil.


Tidak ada jawaban.


Ia berjalan ke arah tangga dan menuruni anak tangga dengan hati-hati. Setiap derak kayu kini terasa seperti pengkhianatan.


Ruang tamu gelap. Hanya cahaya bulan yang menembus jendela besar.


Pintu depan masih terkunci.


Jendela-jendela tertutup.


Ia menghela napas panjang.


Mungkin hanya imajinasi yang terlalu aktif.


Saat ia berbalik hendak kembali ke atas, matanya menangkap sesuatu di lantai dekat pintu dapur.


Garis tipis.


Gelap.


Seperti noda.


Raka mendekat.


Ia berlutut dan menyentuhnya dengan ujung jari.


Kering.


Bukan debu.


Warnanya cokelat tua kehitaman.


Darah?


Ia menelan ludah.


Tidak. Bisa saja hanya noda cat lama.


Namun bau besi itu kembali terasa lebih kuat.


Raka berdiri dan perlahan membuka pintu dapur.


Udara di dalam lebih dingin.


Lampu dapur menyala setelah dua kali ditekan. Cahaya kuningnya memperlihatkan ruangan yang relatif bersih—kecuali satu hal.


Pintu gudang kecil di sudut dapur terbuka sedikit.


Padahal ia yakin tadi siang pintu itu tertutup.


Raka mendekat.


Tangannya gemetar saat mendorong pintu.


Gudang itu sempit. Hanya rak-rak kayu dan beberapa kardus lama.


Dan di lantainya—


Noda lebih besar.


Lebih jelas.


Cokelat tua yang meresap ke sela-sela ubin.


Ia mundur selangkah.


Darah.


Tak diragukan lagi.


Kering. Lama. Tapi tetap darah.


Kepalanya mendadak berdenyut.


Kota ini memang sedang dihebohkan kasus pembunuhan beberapa minggu terakhir. Ia membacanya sekilas sebelum datang—mayat ditemukan di pinggir hutan. Pelaku belum tertangkap.


Jangan konyol, pikirnya. Rumah ini kosong selama bertahun-tahun.


Namun satu pikiran kecil muncul di benaknya—


Bagaimana jika tidak selalu kosong?


Raka menutup pintu gudang dengan cepat dan menguncinya. Tangannya terasa dingin.


Ia kembali ke kamar dengan langkah cepat, mengunci pintu, lalu duduk di ranjang.


Logika.


Gunakan logika.


Bisa saja itu darah hewan. Bisa saja pencuri pernah masuk. Bisa saja…


Ia berhenti.


Tangannya terasa lengket.


Ia melihat telapak tangannya.


Gelap.


Bercak cokelat tipis.


Ia tidak ingat menyentuh noda sebanyak itu.


Jantungnya kembali berpacu.


Raka bergegas ke kamar mandi dan menyalakan lampu.


Wajahnya di cermin terlihat pucat.


Ia membuka keran dan mencuci tangan. Air berubah sedikit kemerahan sebelum mengalir bening.


Saat ia menutup keran, ia merasa ada yang aneh.


Bayangannya.


Terlambat sepersekian detik.


Ia membeku.


Tidak mungkin.


Ia menggerakkan tangan pelan.


Bayangan itu mengikuti.


Normal.


Kau lelah, katanya pada diri sendiri.


Ia mematikan lampu dan kembali ke kamar.


Namun saat ia berbaring, suara itu kembali.


Langkah kaki.


Kali ini lebih dekat.


Tepat di luar pintu kamarnya.


Raka menahan napas.


Tidak ada angin.


Tidak ada alasan.


Langkah itu berhenti tepat di depan pintu.


Hening.


Lalu—


Tok.


Seperti seseorang menyentuh gagang pintu.


Raka melompat bangun dan menatap pintu dalam gelap.


Gagang itu bergerak pelan.


Turun.


Naik lagi.


Turun.


Seolah seseorang mencoba membukanya perlahan.


“K-keluar!” teriaknya, suaranya pecah.


Gerakan berhenti.


Sunyi.


Beberapa detik terasa seperti jam.


Lalu langkah itu menjauh.


Perlahan.


Menuju tangga.


Turun.


Hilang.


Raka menunggu lama sebelum berani mendekat ke pintu. Ia membukanya cepat.


Lorong kosong.


Lampu masih menyala redup.


Tidak ada siapa-siapa.


Ia berlari ke tangga dan melihat ke bawah.


Kosong.


Namun pintu gudang dapur kini terbuka lebar.


Lampu dapur mati.


Raka menelan ludah.


Ia tidak ingat turun lagi.


Ia yakin.


Yakin.


Tapi kenapa pintu itu terbuka?


Ia berdiri di puncak tangga, keringat dingin mengalir di pelipisnya.


Perasaan aneh merayap dalam dadanya.


Bukan hanya takut.


Tapi sesuatu yang lebih dalam.


Sesuatu yang terasa… familiar.


Seperti ia pernah berdiri di posisi ini sebelumnya.


Seperti ia pernah melihat pintu gudang itu terbuka dalam gelap.


Dan entah kenapa, bagian kecil dari dirinya tidak merasa terancam.


Bagian kecil itu merasa… menunggu.


Raka tersentak oleh pikirannya sendiri.


Ia memaksa kakinya turun, satu langkah demi satu langkah.


Saat ia mencapai dapur, bau besi itu kini sangat kuat.


Lampu dapur menyala setelah ditekan.


Gudang terbuka.


Noda darah di lantai tampak lebih gelap dari sebelumnya.


Dan di sampingnya—


Sesuatu yang baru.


Jejak kaki.


Basah.


Mengarah keluar dari gudang.


Menuju tangga.


Menuju atas.


Menuju kamarnya.


Raka menatap jejak itu dengan napas tercekat.


Ukurannya.


Bentuknya.


Sama seperti sepatu yang sedang ia pakai.


Perlahan, sangat perlahan, ia menunduk melihat kakinya sendiri.


Sol sepatu itu masih lembap.


Dan di ujungnya, bercak merah tua yang belum sepenuhnya kering.


Ia tidak ingat turun.


Tidak ingat menginjak apa pun.


Tidak ingat membuka gudang.


Namun rumah itu terlalu sunyi untuk berbohong.


Dan untuk pertama kalinya malam itu, Raka tidak lagi yakin bahwa ada orang lain di dalam rumah bersamanya.


Karena kemungkinan yang lebih menakutkan baru saja muncul di pikirannya—


Bagaimana jika tidak pernah ada siapa-siapa?


Bagaimana jika suara langkah itu…


adalah miliknya sendiri?




Bab 2 – Korban Berikutnya 


Raka tidak tidur malam itu.


Ia duduk di tepi ranjang hingga fajar menyelinap masuk melalui celah tirai. Jejak kaki di dapur masih terbayang jelas di kepalanya—basah, merah tua, mengarah ke tangga… lalu menghilang tepat sebelum pintu kamarnya.


Ia sudah memeriksa sepatu yang ia pakai.


Solnya memang lembap. Tapi ketika ia kembali ke dapur beberapa menit setelah kejadian itu—jejak kaki tadi sudah memudar.


Seperti tak pernah ada.


Yang tersisa hanya noda darah lama di lantai gudang.


Raka mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua itu akibat kurang tidur. Ia memang sering mengalami gangguan tidur beberapa bulan terakhir. Psikolognya pernah menyebut istilah parasomnia—aktivitas tanpa sadar saat tubuh setengah terjaga.


Berjalan dalam tidur.


Membuka pintu.


Melakukan sesuatu tanpa ingat.


Tapi… menginjak darah?


Pagi itu udara kota kecil terasa terlalu bersih. Terlalu biasa. Seolah malam tadi hanyalah mimpi buruk yang tertinggal di sela-sela pikirannya.


Raka memutuskan keluar rumah.


Ia butuh kopi. Butuh suara manusia.


Warung kopi di ujung jalan masih sama seperti dulu—bangku kayu panjang, meja plastik, televisi kecil yang menggantung di sudut ruangan.


Begitu ia masuk, beberapa kepala menoleh.


Wajah-wajah yang samar terasa familiar.


“Lama tak kelihatan, Rak,” sapa seorang pria paruh baya yang dulu tetangganya.


Raka tersenyum tipis. “Baru balik.”


Ia duduk dan memesan kopi hitam.


Televisi menyiarkan berita lokal.


Suara penyiar perempuan terdengar datar namun tegang.


“Pagi ini, warga kembali dikejutkan dengan penemuan korban pembunuhan di area hutan timur kota. Ini merupakan kasus ketiga dalam dua bulan terakhir. Polisi belum memberikan keterangan resmi mengenai pelaku…”


Gelas kopi Raka berhenti setengah jalan menuju bibirnya.


Korban ketiga.


Hutan timur.


Itu area belakang rumahnya.


“Katanya kejadiannya semalam,” bisik seseorang di meja sebelah.


“Jam dua atau tiga pagi. Ada warga yang dengar teriakan.”


Raka menelan ludah.


Jam dua atau tiga pagi.


Ia mencoba mengingat apa yang ia lakukan jam itu.


Ia ingat berdiri di puncak tangga.


Ia ingat melihat jejak kaki.


Setelah itu… kosong.


Kosong seperti lubang hitam dalam memorinya.


“Kasihan,” lanjut pria di meja sebelah. “Katanya korban perempuan muda. Baru pindah juga ke kota ini.”


Perempuan muda.


Pindah.


Entah kenapa dada Raka terasa sesak.


Ia mencoba menenangkan diri. Ratusan orang tinggal di kota ini. Tidak ada alasan menghubungkannya dengan apa pun.


Kau ada di rumah, katanya dalam hati. Kau mendengar langkah. Kau ketakutan.


Kau korban.


Bukan pelaku.


Namun satu detail kecil mengganggu pikirannya—


Ia tidak pernah benar-benar melihat siapa pun di rumah malam itu.


Setelah kopi habis, Raka memutuskan berjalan ke arah hutan.


Ia tidak tahu kenapa.


Mungkin hanya ingin membuktikan jaraknya. Bahwa rumahnya tidak sedekat itu.


Bahwa semuanya kebetulan.


Garis polisi kuning masih terpasang di antara pepohonan. Beberapa petugas berseragam berdiri berjaga.


Raka berhenti cukup jauh.


Tanah di sana terlihat lebih gelap, seperti baru saja digali atau terguncang.


Seorang petugas menoleh ke arahnya. “Pak, area ini ditutup.”


Raka mengangguk. “Saya tinggal di ujung jalan itu.”


Petugas itu menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang nyaman.


“Kalau ada lihat atau dengar sesuatu semalam, segera lapor.”


Raka mengangguk lagi.


Dengar sesuatu.


Langkah kaki.


Gagang pintu bergerak.


Pintu gudang terbuka.


Ia hampir membuka mulut.


Namun apa yang akan ia katakan?


Bahwa ia mendengar langkah di rumah kosongnya?


Bahwa ia mungkin berjalan dalam tidur?


Bahwa ia menemukan darah di gudang yang mungkin sudah ada bertahun-tahun?


Ia menutup mulut kembali.


“Tidak, Pak,” katanya pelan. “Saya tidak lihat apa-apa.”


Petugas itu terus menatapnya seolah mencoba membaca sesuatu di wajahnya. Lalu mengangguk singkat.


Raka berbalik dan berjalan pulang.


Sepanjang perjalanan, ia merasa ada mata yang mengikutinya.


Bukan dari pepohonan.


Dari dalam dirinya sendiri.


Siang itu Raka mencoba membersihkan gudang.


Ia mengenakan sarung tangan karet dan membawa ember berisi air sabun.


Noda darah di lantai tampak lebih jelas dalam cahaya siang.


Ia berlutut dan mulai menggosok.


Air berubah kecokelatan.


Bau besi kembali tercium.


Saat ia menggosok lebih keras, ia menyadari sesuatu—


Noda itu tidak hanya di lantai.


Ada percikan kecil di dinding.


Terlalu tinggi untuk cipratan hewan kecil.


Lebih seperti… semprotan.


Raka berhenti.


Tangannya gemetar.


Ia mencoba mengingat.


Pernahkah ia atau keluarganya menyembelih hewan di sini?


Tidak.


Ibunya bahkan takut darah.


Keringat dingin mengalir di tengkuknya.


Tiba-tiba, kilatan gambar muncul di pikirannya.


Kabut.


Pepohonan.


Napas berat.


Seseorang berlari di depannya.


Teriakan.


Raka tersentak mundur hingga hampir terjatuh.


Ia terengah.


Itu bukan ingatan.


Itu hanya imajinasi.


Bukan?


Ia berdiri dan mencuci tangannya.


Saat menatap cermin kecil di dapur, ia kembali merasakan keanehan itu.


Pantulannya tampak… lebih tenang darinya.


Matanya sendiri terlihat terlalu fokus.


Terlalu dalam.


Seolah menyembunyikan sesuatu yang belum ia pahami.


Malam datang lagi.


Raka memutuskan untuk tidak tidur.


Ia menyeduh kopi dan duduk di ruang tamu dengan lampu menyala terang.


Jam dinding berdetak keras.


Setiap menit terasa seperti satu jam.


Pukul 01.12.


Tidak ada suara.


Pukul 01.47.


Angin berdesir pelan di luar.


Pukul 02.03.


Kepalanya terasa berat.


Hanya sebentar, pikirnya. Pejamkan mata sebentar.


Ia bersandar di sofa.


Dan dunia menjadi gelap.


Raka terbangun dengan napas terengah.


Langit di luar jendela masih gelap.


Jam dinding menunjukkan pukul 03.18.


Lampu ruang tamu mati.


Ia yakin tadi menyalakannya.


Dapur.


Ada suara dari dapur.


Pelan.


Seperti air menetes.


Raka berdiri.


Langkahnya terasa ringan.


Terlalu ringan.


Ia berjalan menuju dapur.


Lampu mati.


Namun cahaya bulan cukup untuk melihat siluet ruangan.


Pintu belakang terbuka sedikit.


Angin malam masuk membawa aroma tanah basah.


Dan di lantai—


Jejak kaki.


Baru.


Mengarah keluar rumah.


Raka menunduk melihat kakinya sendiri.


Sepatunya tidak ia pakai.


Ia hanya mengenakan kaus dan celana pendek.


Kakinya… kotor.


Ada lumpur di sela-sela jari.


Dan sesuatu yang lebih gelap di bawah kuku.


Bau besi itu lagi.


Ia merasa perutnya terbalik.


“Tidak,” bisiknya.


Tidak mungkin.


Ia berlari ke wastafel dan menyalakan lampu.


Tangannya gemetar saat membuka keran.


Air mengalir.


Merah tipis menyatu dengan air sebelum hilang.


Raka memandang dirinya di cermin.


Wajahnya pucat.


Namun ada sesuatu di matanya.


Bukan ketakutan.


Bukan kebingungan.


Sesuatu yang lebih gelap.


Kilatan gambar kembali muncul.


Hutan.


Seorang perempuan.


Wajahnya samar dalam kabut.


Suara napasnya sendiri—bukan karena takut.


Karena marah.


Marah yang dalam.


Marah yang lama terpendam.


Raka memukul wastafel dengan keras.


“Berhenti!”


Pantulannya tidak bergerak sesaat.


Lalu tersenyum tipis.


Raka mundur.


Itu hanya cahaya.


Hanya ilusi.


Ia kembali ke ruang tamu dengan kepala berdenyut.


Pintu belakang masih terbuka.


Ia menutupnya dan menguncinya.


Tangannya menyentuh saku celana pendeknya.


Ada sesuatu di sana.


Ia mengeluarkannya perlahan.


Sebuah kalung kecil.


Liontin berbentuk bunga.


Terlumuri noda gelap.


Jantungnya berhenti sejenak.


Ia tidak pernah melihat kalung itu sebelumnya.


Namun entah kenapa, ia tahu.


Ia tahu milik siapa.


Berita pagi tadi menyebut korban perempuan muda.


Baru pindah.


Raka menjatuhkan kalung itu ke lantai.


Kepalanya terasa pecah.


Ia mencoba mengingat.


Berusaha keras menembus kabut dalam pikirannya.


Dan di balik kabut itu—


Ada dirinya.


Berjalan di hutan.


Mengikuti seseorang.


Bukan sebagai korban.


Bukan sebagai saksi.


Sebagai pemburu.


Raka terduduk di lantai.


Air mata tanpa sadar mengalir.


“Ini bukan aku…”


Namun suara kecil dalam benaknya berbisik pelan—


Kalau bukan kamu…


siapa lagi?



Bab 3 – Lubang dalam Ingatan 


Kalung itu masih tergeletak di lantai dapur saat matahari mulai naik.


Raka tidak berani menyentuhnya lagi.


Ia duduk bersandar pada lemari dapur, memandangi liontin kecil berbentuk bunga itu seperti sedang menatap sesuatu yang hidup. Noda gelap di rantainya sudah mengering, namun bayangan warnanya tetap menempel di pikirannya.


Itu bukan miliknya.


Ia tahu.


Namun benda itu ada di sakunya semalam.


Atau… dini hari.


Tangannya gemetar saat akhirnya ia mengambil tisu dan membungkus kalung tersebut. Ia memasukkannya ke dalam laci dapur paling bawah, lalu menutupnya pelan seolah suara kecil saja bisa membangunkan sesuatu yang lebih buruk.


Raka berdiri dan berjalan ke kamar mandi.


Ia harus berpikir jernih.


Cermin memantulkan wajahnya yang tampak seperti milik orang lain. Mata cekung. Kulit pucat. Ada goresan tipis di lehernya.


Ia menyentuhnya.


Perih.


Ia tidak ingat mendapat luka itu.


Ia mengangkat lengan baju.


Ada bekas tanah di siku.


Memar kecil di lengan kanan.


Lututnya juga sedikit lecet.


Raka mencoba menyusun potongan-potongan malam tadi.


Ia duduk di sofa.


Lampu menyala.


Jam berdetak.


Ia lelah.


Ia memejamkan mata.


Lalu…


Kosong.


Dan sekarang pukul 03.18.


Pintu belakang terbuka.


Kaki berlumpur.


Kalung di saku.


Lubang.


Ada lubang besar dalam ingatannya.


Seperti seseorang memotong satu bagian waktu dan membuangnya begitu saja.


Ia mengambil ponsel.


Tidak ada panggilan.


Tidak ada pesan.


Ia membuka galeri.


Beberapa foto lama.


Lalu satu file video baru.


Tercatat direkam pukul 02.41.


Jantungnya berhenti.


Ia tidak ingat merekam apa pun.


Raka menekan tombol putar.


Video itu gelap.


Beberapa detik pertama hanya suara napas.


Berat.


Terlalu berat.


Kemudian kamera sedikit terangkat.


Gambar kabur pepohonan.


Hutan.


Suara ranting patah.


Dan suara perempuan—


“Tolong… jangan…”


Video berakhir tiba-tiba.


Raka menjatuhkan ponsel.


Tangannya dingin.


Itu suaranya sendiri yang merekam.


Napas di video itu adalah napasnya.


Tidak ada wajah terlihat.


Tidak ada bukti langsung.


Namun ia tahu.


Ia tahu.


Ia berdiri dan mondar-mandir di ruang tamu.


Ini bisa saja rekayasa.


Seseorang mungkin mengambil ponselnya.


Mungkin menjebaknya.


Mungkin…


Pikirannya terhenti oleh satu detail kecil.


Video itu direkam dari sudut yang tinggi, sedikit miring ke kanan.


Seperti kebiasaan tangannya saat memegang ponsel.


Ia selalu sedikit memiringkan kamera.


Kebiasaan kecil.


Kebiasaan yang tak pernah ia sadari.


Sampai sekarang.


Raka terduduk kembali.


Suara berita pagi tadi terngiang di kepalanya.


Korban ketiga.


Perempuan muda.


Baru pindah.


Ia menutup wajah dengan kedua tangan.


Air mata mengalir tanpa suara.


Ia tidak ingat.


Namun tubuhnya tampak mengingat.


Tangannya terasa berat.


Seperti pernah menggenggam sesuatu terlalu kuat.


Ia menoleh ke arah dapur.


Pisau dapur.


Ia bergegas ke sana dan membuka laci.


Satu pisau besar hilang.


Ia berdiri membeku.


Pisau itu biasanya selalu ada.


Ia menggunakannya kemarin untuk memotong roti.


Sekarang tidak ada.


Raka mundur perlahan.


Kepalanya terasa dipenuhi suara bisikan samar.


Bukan suara jelas.


Hanya gema perasaan.


Marah.


Kesal.


Tertekan.


Ia teringat masa kecilnya.


Rumah ini.


Lorong yang sama.


Suara teriakan.


Suara benda dibanting.


Ayahnya berdiri di ruang tamu, mata merah, tangan gemetar.


Ibunya menangis.


Raka kecil berdiri di tangga, menonton.


Tidak bisa bergerak.


Tidak bisa berteriak.


Hanya menyimpan semuanya di dalam.


Ia menggeleng keras.


Tidak.


Ia sudah lama meninggalkan itu semua.


Ia sudah pindah kota.


Sudah bekerja.


Sudah mencoba hidup normal.


Jadi kenapa sekarang—


Tok tok tok.


Ketukan di pintu depan membuatnya tersentak.


Raka berjalan perlahan ke pintu.


Dua polisi berdiri di luar.


“Selamat pagi,” kata salah satu dari mereka. “Kami sedang mendata warga sekitar. Boleh kami bertanya beberapa hal?”


Raka membuka pintu lebih lebar.


“Silakan.”


Polisi itu memperhatikan wajahnya.


“Bapak tinggal sendiri?”


“Iya.”


“Semalam ada mendengar sesuatu dari arah hutan?”


Raka terdiam sepersekian detik terlalu lama.


“Hanya angin,” jawabnya akhirnya.


Polisi itu mencatat sesuatu.


“Pintu belakang rumah bapak terkunci?”


Pertanyaan itu terasa seperti tusukan.


“Iya,” jawabnya cepat.


Terlalu cepat.


Polisi itu menatapnya.


“Boleh kami lihat halaman belakang sebentar?”


Raka merasa tenggorokannya kering.


“Silakan.”


Mereka berjalan ke belakang.


Tanah di sana masih sedikit basah karena embun.


Salah satu polisi jongkok.


“Ini jejak kaki?”


Raka melihat ke tanah.


Ada bekas samar.


Seperti seseorang baru saja berjalan keluar malam tadi.


Jejak itu menuju arah hutan.


Polisi berdiri.


“Bapak yakin tidak keluar rumah semalam?”


Raka merasakan denyut keras di pelipisnya.


“Aku— saya tidur.”


Itu bukan kebohongan.


Ia memang tidak sadar.


Polisi itu menatapnya lama.


Lalu mengangguk pelan.


“Kalau ingat sesuatu, segera hubungi kami.”


Mereka pergi.


Begitu pintu tertutup, Raka terduduk lemas.


Ia kembali ke ruang tamu dan menatap ponselnya.


Video itu masih ada.


Ia menekan putar lagi.


Kali ini ia memperhatikan detail kecil.


Di detik terakhir sebelum video berhenti, ada kilatan cahaya.


Refleksi sesuatu.


Logam.


Pisau.


Dan tangan yang memegangnya.


Tangan itu.


Tangannya.


Raka menjerit dan melempar ponsel ke sofa.


Ia berjalan mundur hingga menabrak dinding.


Cermin kecil di ruang tamu tergantung miring.


Ia menatap pantulannya.


Dan untuk sesaat—


Pantulan itu tampak lebih tenang.


Lebih stabil.


Lebih sadar.


Seolah bagian lain dari dirinya sedang menilai.


“Bukan aku…” bisiknya.


Pantulan itu tidak berkedip.


“Bukan aku…”


Kilatan gambar lain muncul.


Ia berdiri di hutan.


Perempuan itu terjatuh.


Ia mendekat.


Bukan dengan ragu.


Dengan keyakinan.


Dengan tujuan.


Raka memegang kepala.


“Berhenti… berhenti…”


Namun ingatan itu seperti pintu yang mulai terbuka sedikit demi sedikit.


Ia melihat tangannya mendorong.


Mendengar suara napasnya yang berat.


Merasakan amarah yang bukan sekadar marah—


Melainkan ledakan dari sesuatu yang lama terpendam.


Lubang dalam ingatannya mulai terisi.


Bukan dengan kabut lagi.


Dengan potongan kebenaran.


Ia teringat wajah perempuan itu.


Samar.


Tak sepenuhnya jelas.


Namun cukup untuk membuatnya sadar—


Ia mengenalnya.


Ia pernah melihatnya sebelumnya.


Bukan kebetulan.


Bukan acak.


Ada alasan.


Alasan yang belum sepenuhnya ia pahami.


Raka terduduk di lantai, punggungnya menempel pada dinding.


Air mata dan keringat bercampur.


Jika ia benar pelaku…


Mengapa ia tidak ingat?


Apakah ia sakit?


Atau…


Apakah ia hanya pura-pura tidak ingat?


Pertanyaan itu membuat darahnya terasa dingin.


Karena bagian terdalam dirinya tahu—


Ada momen singkat tadi pagi…


Saat ia menonton video itu…


Dan bukan hanya rasa takut yang muncul.


Ada sesuatu yang lain.


Sesuatu yang lebih gelap.


Kepuasan yang nyaris tak terasa.


Seperti bagian kecil dari dirinya menikmati kontrol itu.


Raka menutup mata.


Dan dalam kegelapan, suara itu akhirnya terdengar jelas.


Tenang.


Dingin.


Berasal dari dalam dirinya sendiri.


“Kita baru mulai.”



Bab 4 – Rekaman yang Hilang 


“Kita baru mulai.”


Suara itu tidak terdengar keras. Tidak seperti bisikan menyeramkan dalam film. Tidak menggelegar. Justru tenang. Rasional.


Dan itu yang membuatnya jauh lebih menakutkan.


Raka membuka mata dengan napas tersengal. Ruang tamu sunyi. Jam dinding berdetak seperti biasa. Tidak ada siapa-siapa.


Namun kalimat itu masih menggema di kepalanya.


Bukan seperti suara asing.


Lebih seperti pikirannya sendiri… yang tidak ia kendalikan.


Ia berdiri perlahan. Tangannya masih gemetar, tapi ada satu hal yang kini lebih kuat dari rasa takut—


Ia butuh bukti.


Jika tubuhnya bergerak tanpa ingatan, maka ia harus melihatnya sendiri.


Siang itu juga Raka pergi ke toko elektronik kecil di pusat kota dan membeli dua kamera CCTV sederhana dengan fitur perekam malam. Penjualnya membantu menjelaskan cara pemasangan, tapi Raka hampir tidak mendengarkan. Pikirannya terus kembali pada video di ponselnya.


Pukul 02.41.


Suara perempuan.


Pisau.


Hutan.


Ia tidak bisa menunggu lebih lama.


Sore menjelang, ia memasang satu kamera di ruang tamu menghadap tangga, dan satu lagi di dapur mengarah ke pintu belakang serta gudang. Ia mengatur perekaman otomatis mulai pukul 23.00 hingga 05.00.


Saat semuanya selesai, ia berdiri di tengah ruang tamu dan menatap kamera kecil yang menempel di sudut langit-langit.


“Aku akan tahu,” gumamnya pelan.


Malam turun perlahan.


Raka sengaja tidak minum kopi.


Ia ingin tahu apakah dirinya benar-benar kehilangan kendali… atau hanya berhalusinasi karena kelelahan.


Pukul 22.48.


Ia duduk di sofa dengan lampu menyala terang.


Pukul 23.17.


Matanya mulai berat.


Ia memaksakan diri tetap terjaga.


Pukul 23.59.


Jam berdetak pelan.


Ia menguap.


Hanya satu detik, pikirnya. Tutup mata sebentar.


Raka terbangun oleh cahaya pagi.


Ia duduk tegak di sofa.


Lampu ruang tamu masih menyala.


Jam menunjukkan pukul 06.12.


Ia menatap sekeliling.


Semua tampak normal.


Pintu depan terkunci.


Pintu belakang tertutup.


Dapur sunyi.


Tidak ada jejak kaki.


Tidak ada noda baru.


Jantungnya berdegup cepat.


Mungkin… mungkin malam ini tidak terjadi apa-apa.


Dengan tangan gemetar, ia mengambil laptop dan membuka rekaman dari kamera ruang tamu.


Video dimulai pukul 23.00.


Ia terlihat duduk di sofa.


Menatap kosong.


Pukul 23.58 — ia masih di sana.


Pukul 00.21 — kepalanya tertunduk.


Pukul 00.43 — ia bangun.


Raka menahan napas.


Di layar, dirinya berdiri perlahan.


Namun ada yang berbeda.


Gerakannya terlalu stabil.


Terlalu terkontrol.


Tidak seperti orang setengah tidur.


Ia berdiri tegak, menoleh ke arah kamera.


Dan menatap langsung ke lensa.


Tatapan itu membuat jantung Raka hampir berhenti.


Wajahnya tanpa ekspresi.


Matanya… kosong.


Tidak ada kebingungan.


Tidak ada lelah.


Seolah ia sadar sepenuhnya.


Di video, dirinya tersenyum tipis.


Bukan senyum lebar.


Hanya sudut bibir yang naik perlahan.


Lalu sosoknya berjalan menuju dapur.


Raka segera membuka rekaman kamera dapur.


Waktu menunjukkan 00.47.


Ia muncul dari lorong.


Langkahnya pelan.


Teratur.


Ia berhenti tepat di bawah kamera dan kembali menatap ke atas.


Seperti tahu posisinya.


Seperti tahu sedang direkam.


Raka merasakan tenggorokannya mengering.


Di layar, dirinya mengangkat tangan dan memberi isyarat kecil.


Mengangguk.


Lalu berjalan menuju laci dapur.


Membukanya.


Mengambil sesuatu.


Pisau.


Bukan pisau besar yang hilang sebelumnya.


Pisau lain.


Ia memeriksa ketajamannya dengan jari.


Lalu berjalan ke arah pintu belakang.


Pukul 00.53 — ia keluar rumah.


Video terus berjalan.


Kosong.


Pukul 02.18 — pintu belakang terbuka lagi.


Ia masuk.


Langkahnya sedikit lebih cepat.


Tangannya tampak basah.


Ia berjalan ke wastafel.


Mencuci tangan dengan tenang.


Air di wastafel terlihat berubah gelap.


Lalu ia menatap cermin kecil di dapur.


Dan berbicara.


Tidak ada suara di kamera.


Namun bibirnya bergerak jelas.


Raka memperbesar video.


Mencoba membaca gerak bibirnya.


Perlahan.


“Dia pantas.”


Raka mundur dari layar.


Tubuhnya terasa lemas.


Di video, dirinya kemudian mengeringkan tangan, mengembalikan pisau ke laci, lalu berjalan kembali ke ruang tamu.


Sebelum duduk di sofa, ia menoleh lagi ke arah kamera ruang tamu.


Dan kali ini, senyumnya lebih jelas.


Lebih dalam.


Seolah menantang.


Video berlanjut hingga pukul 03.02 — ia terlihat terjatuh ke sofa, posisi persis seperti saat ia bangun pagi tadi.


Raka menutup laptop dengan keras.


Napasnya tidak teratur.


Itu dirinya.


Tanpa ragu.


Tanpa bingung.


Tanpa kehilangan arah.


Bukan seperti orang yang berjalan dalam tidur.


Ia tampak… sadar.


Terlalu sadar.


Ia berdiri dan berjalan ke cermin ruang tamu.


Wajah yang sama menatap balik.


Namun kini ia tidak bisa lagi memercayai apa yang dilihatnya.


“Apa yang kau lakukan?” bisiknya.


Tidak ada jawaban.


Namun ada sensasi aneh di dadanya.


Sesuatu yang bukan sepenuhnya penyesalan.


Ada getaran halus.


Adrenalin yang tersisa.


Kenangan samar tentang malam itu mulai muncul.


Kabut.


Hutan.


Perempuan itu berbalik.


Matanya membelalak.


Dan dirinya — bukan sebagai korban, bukan sebagai orang kebingungan —


Tapi sebagai seseorang yang sudah memutuskan.


Ia memukul dinding.


“Tidak!”


Namun ingatan itu semakin jelas.


Ia ingat berjalan keluar dengan tujuan.


Bukan tersesat.


Bukan terpaksa.


Ia ingat mengamati dari kejauhan.


Mengikuti.


Menunggu momen.


Seperti seseorang yang sudah pernah melakukan ini sebelumnya.


Raka tersentak oleh pikirannya sendiri.


Sebelumnya?


Apakah ini bukan yang pertama?


Tiba-tiba, detail kecil dari video mengganggunya.


Pukul 00.43 — saat ia berdiri dari sofa.


Wajahnya tampak seperti… sedang mendengarkan.


Seolah ada suara yang memanggil.


Suara yang sama seperti kemarin.


“Kita baru mulai.”


Ia merasakan kepalanya berdenyut keras.


Bukan hanya ada lubang dalam ingatannya.


Ada bagian lain dalam dirinya yang aktif.


Bagian yang terorganisir.


Bagian yang tidak panik.


Bagian yang menikmati kontrol.


Dan bagian itu tahu tentang kamera.


Itu yang paling menakutkan.


Ia tahu sedang direkam.


Dan ia tidak peduli.


Atau mungkin…


Ia ingin direkam.


Seperti pesan.


Seperti peringatan.


Raka menatap laptop yang tertutup.


Jika polisi mendapatkan rekaman ini—


Ia selesai.


Namun bagian kecil dari dirinya berbisik pelan—


Belum.


Masih ada waktu.


Masih ada kesempatan.


Ia menutup telinga dengan kedua tangan.


“Diam…”


Namun suara itu kini lebih jelas.


Lebih stabil.


Lebih percaya diri.


“Kau yang lemah, Raka.”


Ia terdiam.


“Selama ini kau menahan semuanya. Semua amarah. Semua rasa malu. Semua kenangan.”


Gambar masa kecilnya muncul lagi.


Ayah yang kasar.


Ibunya yang tak berdaya.


Ia kecil berdiri diam.


Tidak melawan.


Tidak membela.


Hanya menyimpan.


“Sekarang aku yang melindungi kita,” suara itu melanjutkan. “Aku yang bertindak.”


Raka gemetar.


“Dengan membunuh?”


Sunyi beberapa detik.


Lalu—


“Mereka pantas.”


Kata-kata di video tadi terngiang lagi.


“Dia pantas.”


Raka jatuh terduduk di lantai.


Air mata mengalir tanpa suara.


Ia sadar kini bahwa ini bukan sekadar hilang ingatan.


Ini bukan sekadar gangguan tidur.


Ada sesuatu yang terpecah dalam dirinya.


Sesuatu yang selama ini terkunci.


Dan kini bebas berjalan di malam hari.


Sebelum ia sempat bangkit, ponselnya bergetar.


Nomor tidak dikenal.


Ia menatap layar beberapa detik sebelum menjawab.


“Halo?”


Suara perempuan di ujung sana terdengar pelan.


“Pak Raka?”


Jantungnya berhenti.


“Iya…”


“Saya dari kepolisian. Kami ingin bapak datang ke kantor hari ini. Ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi.”


Dunia terasa menyempit.


“Ada apa?”


“Sidik jari ditemukan di lokasi kejadian.”


Hening.


“Dan hasil awal menunjukkan kecocokan parsial dengan data identitas bapak.”


Raka tidak langsung menjawab.


Tatapannya perlahan beralih ke kamera kecil di sudut langit-langit.


Ia sadar satu hal yang membuatnya jauh lebih takut daripada penangkapan.


Bagian lain dalam dirinya…


belum selesai.


Bab 5 – Suara Kedua 


Telepon itu masih menempel di telinga Raka, tetapi ia tidak lagi mendengar apa yang dikatakan petugas di seberang sana.


Sidik jari.


Kecocokan parsial.


Datang ke kantor polisi hari ini.


Kata-kata itu terdengar jauh, seperti gema di lorong panjang.


“Pak Raka? Apakah Anda masih di sana?”


“Iya,” jawabnya akhirnya, suaranya terdengar asing bahkan bagi dirinya sendiri.


“Kami harap Anda bisa datang sebelum siang.”


“Saya… akan datang.”


Telepon terputus.


Raka berdiri diam di tengah ruang tamu. Kamera kecil di sudut langit-langit tampak seperti mata yang tak berkedip.


Ia tahu seharusnya panik.


Seharusnya menghancurkan rekaman itu.


Seharusnya melarikan diri.


Namun yang ia rasakan justru sesuatu yang lain—


Ketertarikan.


Rasa ingin tahu.


Seolah bagian dari dirinya ingin melihat sejauh mana semuanya akan berjalan.


Ia memijat pelipisnya.


“Ini tidak normal.”


Suara itu menjawab dengan tenang.


“Normal itu relatif.”


Raka membeku.


Ia tidak mendengar suara itu dari luar.


Ia merasakannya dari dalam.


Bukan seperti pikiran liar yang biasa muncul.


Ini berbeda.


Terstruktur.


Tenang.


Penuh keyakinan.


“Siapa kau?” bisiknya.


“Kau tahu.”


Raka menutup mata.


Ia mencoba memisahkan pikirannya.


Ada dirinya—yang takut, yang menyesal, yang bingung.


Dan ada sesuatu yang lain—yang stabil, yang rasional, yang tidak goyah.


“Kau yang membunuh,” Raka berbisik.


“Kita yang membunuh.”


Tubuhnya gemetar.


“Kau tidak pernah bisa melindungi siapa pun,” suara itu melanjutkan. “Waktu kecil, kau diam. Waktu ibu menangis, kau diam. Waktu ayah memukul, kau diam.”


Gambar masa lalu menyeruak tanpa bisa ditahan.


Lorong rumah ini.


Teriakan.


Suara benda pecah.


Ayahnya berdiri dengan wajah penuh amarah.


Ibunya meringkuk di sudut dapur.


Raka kecil di tangga, jari-jarinya mencengkeram pagar kayu.


Tak bergerak.


Tak berteriak.


Tak melawan.


“Aku yang lahir malam itu,” suara itu berbisik. “Saat kau memutuskan bahwa diam tidak cukup.”


Raka terduduk perlahan.


“Tidak… aku tidak pernah—”


“Kau menekan semuanya. Kau menelan semua marah. Kau simpan. Kau kubur. Tapi sesuatu harus keluar.”


Kilatan hutan muncul lagi.


Perempuan itu berlari.


Napasnya tercekat.


Raka mengingat perasaan itu kini—


Bukan hanya marah.


Ada pemicu.


Wajah perempuan itu… mengingatkannya pada seseorang.


Tatapan ketakutan.


Sama seperti tatapan ibunya dulu.


Dan saat itu—


Sesuatu dalam dirinya beralih.


“Dia tidak bersalah,” Raka berbisik.


“Tidak penting.”


Raka menutup telinga, tapi suara itu tetap ada.


“Kita tidak memilih mereka karena siapa mereka. Kita memilih mereka karena apa yang mereka bangkitkan.”


Dadanya terasa sesak.


“Kau monster.”


“Tidak. Aku pelindung.”


Tawa kecil bergema di kepalanya.


Bukan keras.


Tapi cukup untuk membuatnya merasa terpojok dalam tubuhnya sendiri.


Ia tetap pergi ke kantor polisi.


Entah karena takut menolak, atau karena bagian lain dalam dirinya ingin menguji situasi.


Ruang interogasi itu sederhana. Dinding abu-abu. Meja logam. Dua kursi.


Seorang penyidik duduk di depannya.


“Pak Raka, kami menemukan sidik jari Anda pada sebuah benda di lokasi kejadian.”


Raka menelan ludah.


“Benda apa?”


“Kalung milik korban.”


Jantungnya berhenti sesaat.


Kalung itu.


Yang ada di laci dapurnya.


“Kami juga menemukan jejak kaki yang ukurannya sesuai dengan sepatu Anda.”


Raka memaksa napasnya stabil.


“Saya… mungkin berjalan dalam tidur.”


Penyidik itu mengangkat alis.


“Berjalan sejauh hampir satu kilometer ke hutan?”


Raka terdiam.


Suara itu muncul lagi.


“Tenang. Jangan beri mereka lebih dari yang mereka tahu.”


“Saya tidak ingat apa pun setelah tengah malam,” Raka berkata pelan. “Saya memang punya riwayat gangguan tidur.”


Itu bukan sepenuhnya bohong.


Ia memang pernah mengalami episode berjalan tanpa sadar saat stres berat.


Namun tidak pernah sejauh ini.


Penyidik itu menatapnya lama.


“Kami akan memeriksa rekaman CCTV di sekitar area. Untuk sementara, Anda tidak boleh meninggalkan kota.”


Raka mengangguk.


Saat ia berdiri untuk pergi, penyidik itu berkata pelan,


“Pak Raka… apakah Anda merasa aman di rumah itu?”


Pertanyaan itu terasa aneh.


Raka menatapnya.


“Maksud Anda?”


“Dua korban sebelumnya juga tinggal sendirian. Dan masing-masing pernah melaporkan merasa diawasi beberapa hari sebelum kejadian.”


Darah Raka terasa dingin.


Diawasi.


Ia teringat malam pertama di rumah.


Perasaan itu.


Seperti ada sesuatu yang menunggu.


Apakah—


“Kami tidak mengatakan Anda tersangka,” penyidik itu melanjutkan. “Tapi kami juga tidak menutup kemungkinan apa pun.”


Raka keluar dari kantor polisi dengan kepala penuh gema.


Suara itu terdengar lagi.


“Mereka mulai mendekat.”


“Kau harus berhenti,” Raka berbisik.


“Kenapa?”


“Karena ini salah.”


“Salah menurut siapa?”


Langkahnya melambat.


“Kau merasa bersalah?” suara itu bertanya.


Raka terdiam.


Ia mencoba mengingat perasaan saat memegang pisau.


Saat melihat ketakutan di wajah korban.


Ada rasa bersalah.


Ya.


Tapi sebelum itu—


Ada kelegaan.


Seolah tekanan di dadanya menghilang untuk sesaat.


Dan pengakuan itu membuatnya lebih takut daripada tuduhan polisi mana pun.


Malam itu, ia duduk sendirian di kamar.


Lampu mati.


Hanya cahaya bulan masuk melalui jendela.


Ia menatap cermin berdiri di sudut ruangan.


Wajahnya samar dalam pantulan redup.


“Apa yang kau mau?” tanyanya pelan.


Sunyi.


Lalu perlahan, pikirannya menjawab.


“Keseimbangan.”


Raka tertawa pahit.


“Dengan membunuh orang tak bersalah?”


“Kita tidak membunuh tanpa alasan.”


“Apa alasannya?”


Sunyi sesaat.


Lalu—


“Kau belum siap mengingat semuanya.”


Kepalanya kembali berdenyut.


Kilatan gambar muncul.


Ia melihat dirinya berdiri jauh dari rumah korban beberapa hari sebelum kejadian.


Mengamati.


Menunggu.


Bukan acak.


Ada pola.


Ia tidak hanya kehilangan kendali sesaat.


Ia merencanakan.


Dan kesadaran itu menghancurkan sisa pembelaan terakhirnya.


“Kau bukan pelindung,” Raka berbisik pada pantulannya. “Kau pembunuh.”


Pantulan itu tampak lebih tegak.


Lebih yakin.


Dan untuk sesaat—


Raka merasa seperti hanya penonton dalam tubuhnya sendiri.


“Kau bisa mencoba menghentikanku,” suara itu berkata lembut. “Tapi kau tahu siapa yang lebih kuat saat malam datang.”


Jantungnya berdegup kencang.


Ia menatap jam di dinding.


22.37.


Malam masih panjang.


Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang lebih mengerikan daripada kemungkinan ditangkap—


Ia mulai kehilangan kendali bahkan saat masih sadar.


Suara itu tidak lagi hanya muncul saat ia tertidur.


Ia ada sekarang.


Berbicara.


Bernegosiasi.


Meyakinkan.


Raka memejamkan mata dan menarik napas dalam.


Jika ini gangguan identitas…


Maka salah satu dari mereka harus menang.


Dan ia tidak yakin lagi siapa yang akan bertahan sampai fajar.



Bab 6 – Pengakuan Tanpa Sadar 


22.37.


Jarum jam bergerak perlahan, tapi bagi Raka setiap detik terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tak bisa ia hentikan.


Ia tidak menyalakan kamera malam itu.


Ia ingin tahu—tanpa alat, tanpa bukti eksternal—apakah ia bisa melawan.


Ia duduk di lantai kamar, punggung menempel pada dinding, tepat di depan pintu. Jika ia bergerak, ia akan tahu. Jika ia bangun, ia akan sadar.


“Aku tidak akan tidur,” bisiknya.


Suara itu menjawab pelan.


“Kau pasti tidur.”


Raka mengabaikannya.


Ia menggenggam gagang pintu kuat-kuat.


Seolah pintu itu satu-satunya batas antara dirinya dan dunia luar.


Pukul 23.12.


Matanya mulai berat.


Ia berdiri dan berjalan mondar-mandir.


Membasuh wajah dengan air dingin.


Menampar pipinya sendiri.


“Aku di sini,” katanya keras. “Aku sadar.”


“Untuk sekarang,” suara itu membalas.


Raka tidak tahu kapan tepatnya ia kehilangan waktu.


Ia hanya ingat satu momen—


Ia berdiri di depan cermin.


Menatap dirinya.


Lalu gelap.


Bukan seperti tertidur.


Lebih seperti sakelar dimatikan.


Ia kembali sadar oleh udara dingin yang menyentuh wajahnya.


Bukan di kamar.


Bukan di rumah.


Hutan.


Kabut tipis menyelimuti tanah.


Dan ia berdiri di sana.


Jantungnya melonjak.


Tidak.


Tidak lagi.


Tidak lagi.


Tangannya terasa berat.


Ia menunduk.


Sebuah pisau berada dalam genggamannya.


Napasnya cepat.


Dan beberapa meter di depannya—


Seorang pria.


Masih hidup.


Masih sadar.


Terikat pada batang pohon kecil dengan tali.


Mata pria itu membelalak penuh ketakutan.


“Apa yang kau lakukan…?” suara pria itu bergetar.


Raka mundur selangkah.


Pisau hampir terjatuh dari tangannya.


“Aku— aku tidak—”


Suara itu muncul.


Tenang.


Stabil.


“Dia bukan acak.”


Potongan memori menyeruak.


Raka melihat dirinya beberapa hari lalu, duduk di warung kopi.


Mendengar pria itu tertawa keras, membual tentang “mengajari” istrinya.


Melihat bekas memar samar di lengan perempuan yang duduk di sebelahnya.


Mendengar kalimat—


“Perempuan itu harus tahu tempatnya.”


Rasa panas di dada Raka saat itu.


Tekanan lama yang bangkit.


Wajah ibunya.


Tangan ayahnya.


“Kau memilihnya,” suara itu berkata.


Raka memegang kepala.


“Tidak…”


“Kau mengikuti dia pulang malam ini.”


Potongan gambar lain.


Ia berdiri di luar rumah pria itu.


Menunggu.


Mengamati.


Bukan kebetulan.


Bukan kehilangan kendali sepenuhnya.


Ada perencanaan.


“Tidak!” Raka berteriak.


Pria di depannya meronta.


“Tolong! Aku punya anak!”


Raka terhuyung mundur.


Untuk pertama kalinya—


Ia sadar di tengah tindakan itu.


Tidak seperti sebelumnya yang hanya menonton rekaman.


Kini ia ada di sana.


Tubuhnya masih berdiri.


Namun pikirannya kembali.


Dan ia melihat apa yang hampir terjadi.


“Kita harus selesaikan,” suara itu mendesak.


“Tidak!” Raka berteriak keras.


Tangannya gemetar hebat.


Pisau terjatuh ke tanah.


Suara logam menyentuh batu terdengar keras di malam sunyi.


Pria itu menatapnya penuh harap.


“Kau bisa pergi,” Raka terengah. “Pergi sekarang!”


Suara itu berubah.


Tidak lagi tenang.


Kini tajam.


“Lemah.”


Raka merasakan tekanan di kepalanya.


Seperti dua arus saling bertabrakan.


Tangannya bergerak sendiri—


Mengambil pisau kembali.


Ia berusaha menahannya.


Otot-ototnya bergetar.


“Kau tidak bisa menghentikanku,” suara itu berbisik.


“Kau butuh aku.”


“Kita tidak butuh ini!”


Tubuhnya melangkah maju.


Setengah meter.


Pria itu menangis.


Raka melihat pantulan dirinya di mata korban—


Wajahnya tidak lagi kosong.


Ada konflik.


Ada perlawanan.


Untuk pertama kalinya.


“Kau ingin jadi korban lagi?” suara itu menghantam.


Kilatan masa kecil.


Ayahnya berdiri di atas ibunya.


Raka kecil diam.


Tak bergerak.


Tak melawan.


Tubuh Raka membeku.


Dan dalam momen itu—


Ia menyadari sesuatu yang mengerikan.


Kepribadian lain itu tidak hanya lahir dari amarah.


Ia lahir dari ketidakberdayaan.


Ia adalah versi Raka yang tidak mau diam lagi.


Namun ia tumbuh tanpa batas.


Tanpa moral.


Tanpa rem.


“Aku bukan anak kecil lagi,” Raka berbisik.


Tangannya gemetar semakin keras.


Pisau hampir menyentuh kulit pria itu.


Air mata mengalir di wajah Raka.


“Aku bisa memilih.”


Suara itu menekan lebih keras.


“Pilih aku.”


Kepalanya terasa seperti akan pecah.


Lalu—


Ia berteriak sekuat tenaga dan melempar pisau sejauh mungkin ke semak-semak.


Tubuhnya jatuh berlutut.


Pria itu terdiam, kaget.


“Lari!” Raka menjerit.


Pria itu tidak perlu diperintah dua kali.


Ia berlari terbata-bata menjauh.


Suara ranting patah menghilang di antara pepohonan.


Raka tersungkur ke tanah.


Napasnya tak terkendali.


Sunyi.


Lama.


Suara itu tidak langsung kembali.


Ketika akhirnya terdengar, nadanya berubah.


Lebih dingin.


“Kau membuat kesalahan.”


Raka tertawa terengah.


“Mungkin.”


“Kau melemahkanku.”


“Bagus.”


Beberapa detik hening.


Lalu suara itu berbisik sangat pelan—


“Polisi akan datang.”


Raka membeku.


Benar.


Pria itu akan melapor.


Ia baru saja hampir membunuh seseorang.


Ia berdiri dengan kaki gemetar.


Cahaya biru samar terlihat jauh di antara pepohonan.


Seseorang mungkin sudah memanggil bantuan.


Ia tidak tahu berapa lama ia berada di hutan.


Tidak tahu siapa yang melihat.


Namun satu hal pasti—


Ia tidak lagi bisa berpura-pura tidak tahu.


Ia tidak lagi hanya korban dari dirinya sendiri.


Ia baru saja membuat pilihan.


Dan pilihan itu membuka pintu baru.


Suara sirene semakin dekat.


Raka berjalan perlahan keluar dari hutan.


Tangannya terangkat.


Kosong.


Tidak ada pisau.


Tidak ada korban.


Hanya dirinya.


Lampu mobil polisi menyinari wajahnya.


“Berhenti di sana!”


Ia berhenti.


Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—


Raka sepenuhnya sadar saat mereka memborgolnya.


Suara itu masih ada.


Namun kini lebih jauh.


Lebih lemah.


“Kita belum selesai,” bisiknya samar.


Raka menutup mata saat polisi membawanya ke mobil.


Mungkin benar.


Mungkin belum selesai.


Tapi malam ini—


Ia yang memilih.



Bab 7 – Dinding Putih 


Bau antiseptik menusuk hidung Raka.


Bukan bau besi seperti darah.


Bukan bau tanah lembap seperti hutan.


Bersih. Terlalu bersih.


Ia membuka mata perlahan.


Langit-langit putih.


Lampu neon statis.


Tidak ada bayangan pepohonan. Tidak ada kabut.


Hanya dinding putih.


Tangannya terasa ringan.


Tidak diborgol.


Namun pergelangan tangannya memiliki bekas kemerahan.


Ingatan datang perlahan.


Sirene.


Cahaya biru.


Polisi.


Pria yang ia lepaskan.


Ia duduk perlahan.


Ruangan itu bukan sel penjara.


Tidak ada jeruji.


Hanya ranjang sederhana dan kursi besi yang menempel di lantai.


Pintu baja tanpa gagang di dalam.


Rumah sakit.


Atau sesuatu yang mirip.


Ia menyentuh wajahnya.


Nyata.


“Akhirnya kau bangun.”


Suara itu.


Tidak sekuat sebelumnya.


Lebih seperti gema di ruangan kosong.


Raka menutup mata sejenak.


“Aku tidak membunuhnya.”


“Kau hampir melakukannya.”


“Tapi tidak jadi.”


Suara itu tidak menjawab.


Hanya tawa kecil yang terdengar jauh.


Pintu terbuka.


Seorang pria paruh baya masuk dengan map tebal di tangannya.


Kacamata tipis.


Wajah tenang.


“Selamat pagi, Raka.”


Nada suaranya stabil.


Tidak menghakimi.


Tidak ramah juga.


“Di mana aku?” tanya Raka.


“Fasilitas observasi psikiatri kepolisian.”


Raka tertawa pendek.


“Jadi bukan penjara?”


“Belum.”


Pria itu duduk.


“Aku Dr. Mahendra. Kita akan berbicara cukup sering mulai sekarang.”


Raka menatapnya.


“Pria itu…?”


“Selamat.”


Napas Raka terlepas pelan.


“Tapi dia melapor. Dan kau ditemukan di lokasi dengan indikasi percobaan pembunuhan.”


Raka tidak membantah.


Ia tidak ingin berbohong lagi.


“Aku sadar,” katanya pelan.


Dr. Mahendra mencatat sesuatu.


“Kapan?”


“Di hutan.”


“Biasanya tidak?”


Raka menggeleng.


Ia menjelaskan.


Tentang rekaman kamera.


Tentang bangun dengan darah.


Tentang suara.


Ia tidak menyembunyikan apa pun.


Jika ia ingin menghentikan ini, ia harus jujur.


Dokter itu mendengarkan tanpa memotong.


“Dan suara itu sekarang?” tanyanya.


“Masih ada.”


Seolah dipanggil, suara itu berbisik.


“Hati-hati.”


Raka menelan ludah.


“Apa yang ia katakan?”


Raka ragu.


Ia bisa berbohong.


Mengatakan suara itu hilang.


Agar dianggap stabil.


Agar mungkin dilepas.


Namun ia ingat malam tadi.


Pilihan.


“Aku harus memilih lagi,” gumamnya.


“Apa?”


“Dia bilang hati-hati.”


Dokter mencatat lagi.


“Apakah suara itu memerintah?”


“Dulu, ya.”


“Sekarang?”


Raka berpikir.


Sekarang terasa berbeda.


Tidak memerintah.


Lebih seperti mencoba bertahan.


“Tidak sekuat dulu.”


Dr. Mahendra menyilangkan tangan.


“Raka, berdasarkan pola yang kau ceritakan dan laporan kepolisian, ada kemungkinan kau mengalami Dissociative Identity Disorder.”


Raka tertawa hambar.


“Jadi aku gila?”


“Bukan begitu cara kerjanya.”


Dokter menatapnya langsung.


“Kepribadian alternatif sering terbentuk karena trauma berat. Biasanya untuk melindungi diri.”


Melindungi.


Kata itu menancap.


“Dia tidak merasa seperti pelindung,” kata Raka.


“Karena ia berkembang tanpa batas.”


Sunyi.


“Apakah ia bisa hilang?” tanya Raka pelan.


“Tidak dengan cara instan.”


“Kalau aku dipenjara?”


“Penjara tidak menyembuhkan.”


Jawaban itu jujur.


Dan menakutkan.


Hari-hari berikutnya berjalan lambat.


Evaluasi.


Tes.


Wawancara.


Raka mulai mengenali pola.


Suara itu muncul ketika ia merasa terancam.


Ketika ia mengingat masa kecil.


Ketika ia melihat berita tentang kekerasan.


Ketika ia merasa tidak berdaya.


Namun sekarang—


Ada jarak kecil.


Seperti dua orang berdiri di ruangan sama, bukan satu mengambil alih tubuh.


“Kau membuatku lemah,” suara itu berkata suatu malam.


Raka duduk di lantai kamar isolasi.


“Tidak. Aku hanya tidak membiarkanmu memegang kendali.”


“Kau akan menyesal.”


“Kenapa?”


“Kau pikir dunia adil?”


Raka tidak menjawab.


Karena sebagian dirinya tahu—


Dunia memang tidak adil.


Itulah mengapa suara itu lahir.


Suatu sore, Dr. Mahendra membawa sesuatu.


Sebuah tablet.


Ia memutarnya ke arah Raka.


Rekaman CCTV dari luar rumah pria di hutan.


Raka terlihat berdiri di depan pagar.


Menunggu.


Tatapannya kosong.


Namun berbeda dari rekaman lama.


Tidak sepenuhnya mati.


Ada fokus.


“Apa yang kau lihat?” tanya dokter.


“Perencanaan.”


“Jadi bukan sepenuhnya tidak sadar?”


Pertanyaan itu menghantam.


Raka menonton dirinya sendiri.


Mengamati.


Mengikuti.


Tidak seperti seseorang yang sleepwalking.


Lebih seperti seseorang dengan tujuan.


“Dia memilih target,” Raka berbisik.


“Dan kau membiarkannya,” kata dokter tenang.


Kata-kata itu menyakitkan.


Namun benar.


Raka tidak bisa lagi berlindung di balik “aku tidak tahu”.


Sebagian dirinya tahu.


Mungkin tidak sepenuhnya sadar.


Namun tidak sepenuhnya korban.


“Kita harus menyatukan kalian,” kata dokter.


“Bukan menghapus.”


Raka menatapnya tajam.


“Menyatukan pembunuh dengan diriku?”


“Menyatukan trauma dengan kesadaran.”


Malam itu, suara itu muncul lebih jelas.


“Kau percaya padanya?”


“Aku ingin berhenti,” jawab Raka.


“Tanpa aku, kau akan kembali jadi anak kecil itu.”


“Tidak.”


“Kau yakin?”


Bayangan masa kecil muncul lagi.


Namun kali ini berbeda.


Raka kecil berdiri.


Bukan hanya diam.


Bukan hanya menonton.


“Aku bukan dia lagi,” kata Raka pelan.


Suara itu hening.


Lama.


“Kau butuh aku.”


“Mungkin. Tapi bukan sebagai pembunuh.”


Sunyi.


Seperti dua sisi yang sama-sama lelah.


Untuk pertama kalinya—


Suara itu tidak membantah.


Keesokan paginya, Dr. Mahendra datang dengan ekspresi berbeda.


“Pria yang kau lepaskan mencabut tuntutan percobaan pembunuhan.”


Raka terdiam.


“Apa?”


“Ia mengaku panik. Tidak ada luka. Tidak ada bukti penyerangan. Hanya penculikan singkat.”


Raka merasakan campuran lega dan bersalah.


“Jadi aku bebas?”


“Tidak sesederhana itu. Ada kasus lain yang belum terpecahkan.”


Tiga korban sebelumnya.


Tubuh-tubuh di hutan.


Raka menutup mata.


Ia belum menghadapi itu sepenuhnya.


“Jika aku mengaku?” tanyanya.


Dokter menatapnya lama.


“Itu pilihanmu.”


Pilihan.


Kata itu kembali.


Ia bisa tetap diam.


Tanpa bukti langsung, mungkin kasus akan menggantung.


Atau ia bisa mengaku.


Menghadapi konsekuensi.


Suara itu berbisik pelan.


“Jangan.”


Raka berdiri.


Kakinya gemetar.


Namun tidak seperti dulu.


Ini bukan gemetar karena kehilangan kendali.


Ini karena sadar.


“Aku ingin membuat pernyataan,” katanya.


Dr. Mahendra tidak terlihat terkejut.


Hanya mengangguk pelan.


Saat pintu dibuka dan petugas masuk, suara itu berbicara sekali lagi.


“Kau benar-benar memilih.”


“Ya.”


“Kalau begitu… kita lihat seberapa kuat kau tanpa aku.”


Raka menarik napas panjang.


Dan untuk pertama kalinya—


Suara itu tidak terdengar seperti ancaman.


Lebih seperti ujian.


Ia melangkah keluar dari ruangan putih itu.


Menuju ruang interogasi.


Menuju pengakuan.


Menuju konsekuensi.


Dan entah kenapa—


Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—


Ia merasa utuh.


Mungkin tidak bersih.


Tidak bebas.


Tapi utuh.


Dan kesadaran itu jauh lebih menakutkan daripada suara apa pun.



Bab 8 – Utuh 


Ruang interogasi tidak sedingin yang Raka bayangkan.


Lampunya tetap terang. Meja besi memantulkan bayangan wajahnya yang tampak lebih tua dari usianya.


Di seberangnya, dua penyidik duduk diam.


Tidak ada tekanan. Tidak ada teriakan.


Hanya satu pertanyaan sederhana.


“Kau ingin mengakui sesuatu?”


Raka menarik napas panjang.


Suara itu ada.


Namun tidak berbisik.


Tidak mendesak.


Hanya diam, menunggu.


“Aku ingin menceritakan semuanya,” kata Raka pelan.


Dan ia mulai berbicara.


Tentang malam pertama ia bangun dengan darah di tangannya.


Tentang kamera.


Tentang hutan.


Tentang korban-korban yang ia pilih—bukan acak, bukan tanpa alasan, tapi tetap tidak pernah berhak ia hukum.


Ia tidak mencoba membenarkan.


Tidak mencoba menyalahkan masa lalu.


Ia menyebut nama-nama yang ia ingat.


Lokasi.


Detail.


Beberapa hal yang belum pernah dipublikasikan.


Ruangan itu menjadi sunyi semakin lama ia bicara.


Karena semakin jelas—


Ia bukan lagi pria yang tidak tahu.


Ia tahu.


Dan ia memilih untuk mengakui.


Proses hukum berjalan lambat.


Berita tentang “Pembunuh Hutan yang Mengaku Sendiri” menyebar cepat.


Banyak yang menyebutnya monster.


Beberapa menyebutnya vigilante gagal.


Sebagian kecil menyebutnya korban trauma.


Namun di balik semua label itu, Raka menjalani evaluasi lanjutan.


Tim psikiatri menyimpulkan bahwa ia memang mengalami gangguan disosiatif berat, diperparah trauma masa kecil dan represi emosi bertahun-tahun.


Namun mereka juga menyimpulkan satu hal penting—


Pada momen terakhir, ia memiliki kapasitas memilih.


Dan ia memilih berhenti.


Itu tidak menghapus dosa.


Namun itu mengubah arah akhir.


Pengadilan memutuskan ia tidak sepenuhnya tidak waras saat melakukan tindakan sebelumnya.


Ia tetap bertanggung jawab.


Namun hukuman penjara digabung dengan perawatan psikiatri intensif di fasilitas khusus.


Bukan kebebasan.


Namun bukan sekadar kurungan tanpa terapi.


Hari pertama di fasilitas rehabilitasi forensik terasa sunyi.


Tidak ada jeruji tradisional.


Namun setiap pintu terkunci otomatis.


Setiap langkah diawasi.


Raka duduk di ranjang kecil.


Tidak ada cermin di kamar itu.


Ia memperhatikan detail kecil:


Dinding abu-abu.


Meja kayu sederhana.


Buku catatan kosong yang diberikan perawat.


“Untuk menulis,” kata mereka.


Malam itu, suara itu muncul lagi.


Namun berbeda.


Tidak tajam.


Tidak memerintah.


“Hukuman yang bagus,” bisiknya pelan.


Raka tidak marah.


“Ini konsekuensi.”


“Kau bisa saja kabur.”


“Tidak.”


Sunyi sejenak.


“Apa kau menyesal melemahkanku?”


Raka berpikir lama.


Jika ia jujur—


Sebagian kecil dirinya memang merindukan kekuatan itu.


Rasa kontrol.


Rasa tidak takut.


Namun ia juga ingat darah.


Jeritan.


Wajah korban terakhir yang hampir ia bunuh.


“Aku tidak melemahkanmu,” katanya akhirnya.

“Aku membatasimu.”


Suara itu tidak langsung menjawab.


“Tanpa aku, kau akan takut lagi.”


“Aku memang takut.”


Jawaban itu keluar tanpa ragu.


Dan untuk pertama kalinya—


Ia tidak merasa malu mengatakannya.


Terapi berjalan bulan demi bulan.


Sesi panjang tentang masa kecil.


Tentang ibunya yang diam.


Tentang ayahnya yang keras dan kasar.


Tentang malam-malam di mana Raka kecil bersembunyi di bawah tempat tidur.


Tentang rasa ingin melawan yang tak pernah sempat keluar.


Kepribadian alternatif itu—yang kini ia beri nama “Bayangan”—perlahan dipahami, bukan dilawan.


Bayangan bukan setan.


Bukan iblis.


Ia adalah amarah yang dipisahkan.


Keberanian yang tumbuh tanpa arahan.


Proteksi yang berubah menjadi agresi.


“Kita tidak menghapus Bayangan,” kata terapis suatu hari.

“Kita mengajarinya duduk bersamamu.”


Awalnya Raka menganggap itu mustahil.


Namun setiap kali suara itu muncul, ia tidak lagi menutup telinga.


Ia mendengarkan.


“Kenapa kau marah?” tanyanya suatu malam dalam batin.


“Karena kau diam terlalu lama,” jawab Bayangan.


“Sekarang aku tidak diam.”


“Buktikan.”


Dan pembuktian itu bukan lewat kekerasan.


Melainkan lewat keberanian menghadapi rasa bersalah.


Menghadapi sidang korban.


Menghadapi tatapan keluarga yang kehilangan.


Itu jauh lebih sulit daripada mengangkat pisau.


Setahun berlalu.


Raka duduk di ruang kunjungan khusus.


Di hadapannya, ibunya.


Rambutnya lebih putih dari yang ia ingat.


Matanya sembab.


“Aku gagal jadi ibu,” katanya lirih.


Raka menggeleng pelan.


“Kita sama-sama bertahan dengan cara yang salah.”


Ibunya menangis.


Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raka memeluknya tanpa rasa takut, tanpa rasa marah.


Di sudut pikirannya, Bayangan memperhatikan.


“Ini yang kau mau?” tanya suara itu.


“Ya.”


“Ini terasa… aneh.”


“Karena kita tidak pernah mencobanya.”


Sunyi.


Namun bukan sunyi yang mengancam.


Sunyi yang tenang.


Beberapa tahun kemudian.


Proses rehabilitasi menunjukkan perkembangan signifikan.


Raka masih menjalani hukuman.


Namun ia kini membantu program terapi kelompok untuk narapidana dengan trauma kekerasan masa kecil.


Ironis.


Seorang mantan pembunuh membantu orang lain memahami amarah mereka.


Namun justru di situlah maknanya.


Ia tidak pernah menghapus masa lalunya.


Ia menggunakannya sebagai pengingat.


Suatu malam, ia duduk sendirian di ruang baca kecil.


Tidak ada suara selama beberapa jam.


Tidak ada bisikan.


Tidak ada tekanan.


Hanya napasnya sendiri.


Ia menutup buku yang sedang dibacanya.


“Masih di sana?” bisiknya pelan.


Bayangan muncul samar.


“Ya.”


Namun tidak lagi menguasai.


Tidak lagi berdiri di depan.


Kini hanya duduk di samping.


“Kita tidak akan pernah sepenuhnya bersih,” kata Bayangan.


“Aku tahu.”


“Kita akan selalu membawa ini.”


“Ya.”


“Tapi kita tidak harus mengulanginya.”


Raka tersenyum tipis.


“Tidak.”


Untuk pertama kalinya—


Ia tidak ingin membungkam suara itu.


Ia tidak ingin menghancurkannya.


Karena ia sadar—


Bayangan adalah bagian dari dirinya.


Bukan musuh yang harus dibunuh.


Melainkan sisi yang harus dipahami.


Lampu ruang baca meredup otomatis.


Waktu malam hampir habis.


Raka berdiri dan berjalan kembali ke kamarnya.


Langkahnya stabil.


Tidak berat.


Tidak terhuyung oleh konflik batin.


Hanya langkah seorang pria yang akhirnya menerima seluruh dirinya—


Termasuk sisi tergelapnya.


Di dalam kamar, ia duduk di ranjang.


Menutup mata.


Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun lalu—


Ia tertidur tanpa rasa takut akan bangun dengan darah di tangannya.


Suara itu tetap ada.


Namun kini hanya seperti bayangan di senja hari—


Mengikuti.


Bukan memimpin.


Dan dalam gelap yang tenang itu, Raka akhirnya mengerti:


Monster itu bukan sesuatu yang datang dari luar.


Ia lahir dari luka yang tak pernah disembuhkan.


Dan ketika luka itu dihadapi—


Monster itu tidak perlu dibunuh.


Cukup dipeluk.


Dengan batas.


Dengan kesadaran.


Dengan pilihan.


Dan malam itu—


Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—


Raka benar-benar utuh.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar